Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

RISKA Road to Jogja 2

2 Komentar

RISKA Road to Jogja 2

Hari kedua,.. Pagi ini setelah shubuh otot dan badan ini rasanya masih ingin “diluruskan” kembali. Rebahan merupakan pilihan yang menyenangkan nampaknya. Walau begitu ada beberapa Sahabat lebih memilih menikmati udara pagi dan mentari yang menyapa kami pagi ini. Maklum kalau kayak Bang Eko Yuniarto mah ga ngantuk, lah wong dimotor dia tidur…. 🙂

Tidak lama kami melek lagi dan sarapan pun dimulai dengan menu yang telah terhidang dengan sangat menggiurkan. Disela sarapan kami berembuk mengenai rute yang akan ditempuh hari ini. Kami pun sepakat untuk sampai di kediaman jeng Daru di Magelang siang pas jam makan siang. Tahulah maksudnya. Sang tuan rumahpun dikontak untuk menyepakati. Lalu satu persatu diantara kami mulai mandi. Disamping karena air tersedia cukup banyak tanpa sadar kami rata-rata mandinya lebih lama dari biasanya guna mengembalikan kesegaran tubuh, maklum saja dari perjalanan berangkat baru kali ini bisa mandi sepuasnya.

Hampir pukul 8 waktu Purworejo, saya bersama ayet, harri dan adi mencari bengkel untuk ganti oli sekaligus memperbaiki klakson motornya ayet. Setelah ganti oli kami sempatkan untuk cuci motor. Sekembalinya kami, rekan-rekan sudah siap untuk melanjutkan perjalanan menuju Magelang. Kami pun pamit dan sangat berterimakasih atas jamuan dan diberi tempat melepas lelah setelah didera kantuk yang sangat & hembusan angin malam.

Di Masjid Raya Magelang di alun-alun kami janjian dengan Daru. Sesampainya kami shalat jamak dhuhur ashar berjamaah setelah sempat tanya-tanya karena rutenya cukup ramai dan verboden. Saking kedernya ada yang kena “infaq tilang ceban” karena tertinggal dan menyerobot lampu merah. Inget Bung, emang ini Raden Saleh! Lupa ya? :p…

Setelah istirahat sebentar karena cuaca cukup panas, perjalanan kami lanjutkan dengan motor Daru yang didepan. Kali ini kami melewati rutesekitar 30 menit yang cukup tajam dan berliku. Walau dengan penuh semangat kesepuluh laki-laki ini ternyata tidak gampang mengejar motor yang dikendarai seorang gadis desa ini yang berlari kencang dan nampaknya ia sudah hafal treknya. Sekitar pukul 1400 sampailah kami dikediaman jeng Daru yang berada dipemukiman yang mau tidak mau tidak bisa menghindar dari pasir gunung berapi.


Udara yang cukup panas tidak mengurangi rasa senang kami saat disambut eMaknya daru sesampainya dirumah yang cukup adem bersamaan dengan itu juga ditemani hembusan angin sejuk. Nongkrong diteras merupakan kenikmatan tersendiri. Tak lama sajian pembuka mulai berdatangan. Es buah dan cincau sebaskom habis dalam sekejap bersama gorengan yang masih hangat-hangatnya. Bahkan hal yang menggelikan adalah ketika Daru keluar membawa cabe rawit sebagai pelengkap makan bakwan jagung namun betapa kagetnya si Daru ternyata bakwan jagungnya sudah lenyap dari piringnya. Otomatis cabe rawitnya utuh, dengan “terpaksa” gorengan keluar lagi deh. 😀 😀

Dua baskom minuman dingin dan berpiring-piring gorengan tidak menyurutkan selera kami ini untuk meladeni tantangan makan siang yang sudah disiapkan dengan menu gulai itik dan sayur segarnya. Padahal Rasul sudah berpesan bahwa cukuplah makan untuk menegakkan tulang punggungmu nampaknya sedikit pada lupa, mumpung liburan dan gratis pikirnya. Mau ga mau mulai pada kembung dan harus ngantri di KBU dibelakang.. 🙂

Pukul 1700 kami pamit ke eMaknya Daru sebelumnya foto bersama dulu di halaman teras rumah untuk melanjutkan ke kediaman bang Marlan di Bantul parangtritis. Kali ini rutenya ga kalah serunya yang harus dilewati. Disini kami diantar sampai di jalan raya menuju Yogya. Beberapa ruas jalannya yang sudah rusak dibukit yang berliku dan dataran tinggi yang dilewati sampai harus menembus kabut yang membuat pandangan sangat terbatas hanya pada motor yang didepan saja yangterlihat dan cuaca ini membuat badan kami makin menggigil. Woww serunya.

Setibanya dijalur Magelang – Yogya kami berpisah dengan Daru yang sudah mengantarkan kami melewati jalur alternatif ini dan telah diberi kesempatan menikmati jamuannya yang memuaskan kami. Setelah 30 menit perjalanan ditempuh kami singgah di Masjid Sidoharjo guna menunaikan shalat maghrib isya’. Dijalur yang lebar dan ramai ini kami sangat antusias karena Yogya sudah didepan mata. Dalam kecepatan tinggi nyaris saja diantara kami hampir terjadi tabrakan beruntun jika tidak saja reflek hanya dalam hitungan detik guna menghindari sebuah motor yang telat memberi lampu signal kekanan karena berhenti ditengah jalan yang agak kurang penerangannya ini tepatnya dia berhenti masih digaris putus-putus. Alhamdulillah Allah Ta’ala sayang kepada kami.

Pukul 1925, jarum jam di Tugu Malioboro menunjukan waktu kedatangan kami. Suatu kawasan yang sangat sesak dan ramai, tidak seperti tergambar dilagu “Yogyakarta”- nya KLA Project. Dipasar Beringhardjo kami parkir motor guna mencari kamar dan makan. Setelah cukup lelah dan jauh berjalan dikeramaian kami kebingungan dan pasrah karena kamar-kamar sudah penuh. Akhirnya kami nongkrong dulu aja di trotoar padahal mulai keroncongan. Karena itu, kami pun menunggu saja karena ayet dan kocah pergi naik becak mencari kamar. Namun sia-sia saja, lalu kami kembali menuju parkiran pasar Beringhardjo dengan naik Andhong yang kudanya pasrah kelebihan muatan dengan delapan orang plus barang bawaan dengan ongkos Rp 20.000. Paling-paling Andhong-nya pulang langsung stel pelek. he.he. Dari sini kami jalan sedikit dan makan sate dan minum disekitar alun-alun Keraton.

Dirasa cukup istirahat & makan, perjalanan dilanjutkan menuju kediaman bang Marlan di Bantul Parangtritis. Tak peduli badan ini agak letih namun terkalahkan oleh semangat kami untuk segera sampai dilokasi daripada harus memilih tidur dijalan dan terluntang-lantung. Pukul 22.30 kami tiba dirumah bang Marlan setelah dijemput disuatu jembatan dijalur menuju pantai parangtritis yang berjarak hanya 10 menit dari rumah bang Marlan.

Ibunya bang Marlan menyambut kedatangan kami dengan sumringah walau kami sendiri –kecuali Harri– tidak mengerti bahasa yang diucapkannya dan harus menerka-nerka … he..he. Surprise bagi kami, ternyata hidangan sudah tersaji dimeja makan dan teh hangat yang sangat membantu menghangatkan tubuh ini yang kelelahan. Setelah ngobrol- ngobrol sekitar pukul 2300 kami tidur menikmati malam yang damai ini.

bersambung…

–mfirmanshah–
‘selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Iklan

2 thoughts on “RISKA Road to Jogja 2

  1. Hai brother Firman, kok sepi-sepi aja? Ditunggu ya next-postingannya!

  2. wah makacih dah remainder…
    gimana Ike masih betah di Jogja ?
    tu dah gw upload critanya. krn selama ini gw posting baru dimilis aj…
    salam buat Ochan dan Ndun….thX

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s