Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Jelang 1/4 Abad

Tinggalkan komentar

Entah mengapa seiring berjalannya waktu sejak memasuki bulan Nopember ini perasaanku agak gelisah, deg-deg-an dan terus berpikir…


Tak terasa Sang Maha Rahman sudah sejauh ini memberi amanah sampai sekarang. Merangkak, berjalan dan berlari ribuan kilometer dengan penuh liku, dinamika, pahit getir. Banyaknya insight/’ibroh yang membuat diriku makin yakin akan kebesaran-Nya.


Hari itu sabtu 25 tahun yang lalu lahirlah aku setelah ayah bunda menanti dengan penuh harap cemas di RS selama tiga hari. Kehadiranku disambut dengan sukacita oleh keluarga kedua orangtuaku walau aku tidak sempat berjumpa dengan Nenek dari Ibu. Nenek dari Ayahlah yang berkesempatan memanjakan cucunya yang rancak ini. Aku sich percaya aja kata beliau, lah aku hanya bisa duduk manis dipangkuannya.


Hm..m rasanya baru kemarin di SD, SMP dan SMA dengan segala kenangannya. Tak terasa baru kemarin rasanya setiap Idul Fitri dengan senangnya menghitung angpaw pemberian kakak dan tanteku.


Masih jelas dimemori ini ketika ibu menjewer kuping ini karena pagi-pagi sudah pergi nonton gaban bersama teman-teman sebayaku dengan membayar sejumlah rupiah dari uang jajan. Atau saat terbawa mobil jauh ketika asyik main Be-Em Be-Em an. 😀 😀 .. Belum lagi saat berkelahi dengan temen yang usil atau dipagi hari sudah baris-berbaris didepan sebelum masuk kelas saat Sekolah Dasar. Sepulangnya ba’da maghrib pergi mengaji oleh guru sebelah rumah bersama teman-teman laki-laki atau perempuan seusiaku.


Atau ketika sore menanti kepulangan Ayah yang selalu dinantikan. Saat kecewa ketika permintaan untuk dibelikan mainan Ayah tolak. Bermain dan bermanja-manja dipundaknya yang sudah letih tanpa rasa bersalah.


Lembar-lembar kehidupan sudah tertulis penuh dengan airmata dan sukacita. Penuh goresan dan khilaf. Hamba sadar sepenuhnya masih banyak sekali PR yang harus segera diselesaikan. Masih jauhnya pencapaian dan target-target yang harus diraih. Ketika mendekat selangkah ternyata Allah Ta’ala memberinya sehasta. Begitu juga ketika kita berjalan kepadaNya, Ia berlari dengan RahmatNya. Tidak cukup rasa syukur ini dipanjatkan.


Nikmat Allah Ta’ala yang manakah yang harus kudustakan?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s