Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

RISKA Road to Jogja 3

Tinggalkan komentar

 

Disini shubuh lebih cepat daripada dijakarta. Pukul 4 pagi kami sudah menuju masjid tuk shalat. Sekembalinya dari Masjid al Amina, kami ada yang berleha-leha, rebahan lagi (kebiasaan dirumah kebawa) sampai ada yang lagi rendam pakaian juga.

Sambil sarapan Ibundanya bang Marlan bilang “kalian disini harus telung dino yah”. Nah lho? berarti lebih sehari dari rencana nih. Tanpa ada perdebatan dan tentunya dengan sangat senang kami pun menyambut permintaan beliau & tak peduli pulangnya kapan.

Ditemani teh hangat pagi ini kami cukup kekenyangan disuguhi dengan pisang rebus, sesisir pisang, tales goreng.. dan dodol. Tak lama ibundanya menyuruh kami untuk makan pagi –karena kurang tepat disebut sarapan– karena menunya berat-berat.

Sekitar pukul 10 kami diajak ke kebun untuk memetik degan alias kelapa muda. Tapi hanya melihat-lihat saja. Hebat kalo bisa memetik kelapa, lha wong biasa tinggal pesan-minum aja di depan MASK. Lalu kami menuju sungai yang tenang melihat para penambang pasir yang sangat bersemangat mengeruk dibawah terik matahari. Ada yang dipinggir sungai bersama timnya, ada yang ditengah sungai bersama perahu khususnya
sambil menyelam mengambil butiran-butiran hitam tsb.

Kembalinya kami ke rumah ternyata sudah tersedia puluhan kelapa yang sudah dipetik dan siap kami serbu. Jangan tanya siapa yang memetiknya. Satu-persatu kami belah dan kerok sampai terisi satu termos es besar yang biasa sering digunakan untuk jualan es kelapa muda. Tapi kali ini isinya benar-benar murni kelapa muda yang sangat menggiurkan dahaga kami. Dengan tambahan batu es kami berebut isi gelas masing-masing tanpa ada yang memberi aba-aba. Tak lupa kami berembuk untuk rute
hari ini yang akan dituju. Masya Allah nikmatnya sampai lupa ada sms masuk.

Namun sayang jam 12 siang ini kami harus ditinggal seorang sahabat, Eko Y. yang harus pulang duluan karena harus ngantor besoknya. Maklum aja lagi ngejar target katanya. Ditemani bang Marlan, Eko Y. membeli karcis bus Sinar Jaya dipool terdekat. Setelah puas minum degan, sekitar pukul 11 kami berangkat lagi ke Magelang menuju Borobudur.
Sebelum berangkat kami makan siang lebih awal dari waktunya dengan menu utama soto ayam, sambal, tempe, tahu dan sayur.

Jalan yang cukup berliku dan ramai lancar kami nikmati dengan senangnya. Alhamdulillah sayup-sayup adzan Ashar mengiringi setibanya kami dipintu loket. Jangan bingung dilokasi ini yang terdengar malah suara adzan. Masuk sedikit dari gerbang loket kami istirahat dibawah pohon yang cukup rindang sambil menunggu kedatangan Daru. Setelah
dirasa sudah tidak gerah lagi kami menuju lokasi Candi Borobudur yang jaraknya sekitar 2 km dari pintu masuk. Karena niatnya “wisata” dan sedikit agak manja kami memilih naik mobil kereta daripada jalan kaki dengan ongkos tiket beberapa ribu rupiah per-orang. Liburan kali ini lokasi Borobudur sangat ramai baik oleh turis lokal maupun asing. Kami pun duduk-duduk menikmati pemandangan dikaki candi lalu naik perlahan-
lahan mengintari Candi tersebut dan tentunya tak lupa bernarsis-ria. Tak heran sering terdengar peringatan dari pengeras suara pengelola karena banyaknya pengunjung yang memanjat stupa untuk foto-foto, mungkin termasuk kami.

Namun sangat disayangkan banyaknya stupa yang sudah tidak utuh karena beberapa bagiannya dicuri orang tak bertanggungjawab. Selain itu terlalu banyaknya pengasong souvenir dan jajanan sampai juru foto yang tidak tertib sangat menggangu pengunjung yang ingin menikmati keindahan Borobudur dan pemandangan sekitarnya. Hal yang sangat disesalkan.

Jelang maghrib kami turun dan menuju parkiran bersamaan dengan itu kumandang adzan maghrib, kami meninggalkan Borobudur untuk shalat di Masjid yang persis diseberang komplek Borobudur. Setelah shalat Maghrib kami lanjutkan jamak shalat Isya berjamaah.

Disini ada hal yang mengusik perhatian dan pikiran kami hingga tanpa sadar bulu kuduk ini merinding. Suatu pemandangan yang tenang menghadirkan aura damai. Sesuatu yang sudah jarang dan sulit kita temui dilingkungan kita di Jakarta khususnya. Ya, diteras Masjid itu duduklah dua pembimbing dengan masing-masing tiga orang anak laki-laki
dan perempuan mengaji iqro’. Anak-anak itu diperkirakan dengan rentang usia 4-7 tahun. Mereka sangat antusias dan bersemangat mengelilingi, memperhatikan dan mengikuti bacaan yang dieja pembimbingnya. Allahu Akbar !! Inikah yang bisa disebut proses Tarbiyah sejak dini…

Sejenak istirahat kami meluncur kembali ke Desa Kretek, Bantul ditengah padatnya arus lalu lintas malam ini… dan berpisah dengan Daru yang sudah menemani kami untuk pulang kerumah familinya didekat Borobudur. Alhamdulillah sekitar pukul 21 sampailah kami lalu dilanjutkan dengan makan malam dengan menu ayam berkuah bumbu kuning… hmm…

************

Hari ini kamis, 18 Oktober 2007 kami bener-bener bermalas-malasan bangun pagi ini setelah shubuh semuanya tidur lagi. Tak terasa jarum jam menunjukkan hampir pukul 9… Disaat bersamaan di dapur semua sarapan sudah siap tersedia, satu persatu kami sarapan dan dilanjutkan bersih-bersih diri karena siang ini kami berencana menuju Pantai Selatan, tapi bukan Pantai Parangtritis tapi jauh berputar lebih melewati Gunung Kidul dan Wonosari.

Memang sudah diawal kami tidak paham berapa jauh jarak yang akan ditempuh dan rute yang dilalui, kami semua hayoo aja. Panasnya cuaca tidak menyurutkan kami. Setelah shalat dzuhur dijalan kami melanjutkan perjalanan ini melewati Wonosari. Disini kami janjian dengan temannya Ayet yang akan membantu mengantarkan kami menuju Pantai Baron di Selatan Jawa. Lalu kami sempatkan diri mampir di warung pinggir jalan menuju Gunung Kidul menikmati nasi kucing dan gorengan ditambah es teh manis karena jam sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang.

Dirasa cukup kenyang kami berangkat dengan formasi tetap ditambah motor temannya Ayet yang paling depan menuju Pantai Baron. Awalnya kami harus melewati suatu kawasan pegunungan yang penuh angin segar dan cuaca yang sejuk, jalan yang berkelok-kelok seperti dipuncak dengan patahan tajam, kelokkan petruk istilahnya. Tak beberapa lama kami memasuki kawasan yang kering dan diantara kanan-kiri jalannya itu
adalah gunung-gunung yang berbatu hitam bolong-bolong. Kalau dilihat dengan samar-samar nampak seperti tengkorak kepala yang berjejer.

Gunung Kidul telah terlewat. Kami pun tiba di Pantai Kukup bermain-main dengan ombak dan memandang jauh kelaut sambil menikmati ke-Maha Agung-nya disini. Lalu dilanjutkan menuju Pantai Baron dan pantai satu lagi yang sejajar ketiganya. Cukup puas berendam dan menelusuri bibir pantai menikmati udara sore ini dan bersamaan dengan adzan maghrib kami kembali pulang. Diperjalanan motornya Ayet sedikit ngambek meminta kami untuk berhenti dulu di Masjid untuk shalat maghrib dan isya secara jamak. Setelah isya kami duduk-duduk sebentar diterasnya sambil menikmati pisang dan makanan kecil yang tadi dibungkusi oleh ibunya bang Marlan.

Pulang melewati kembali kawasan berliku tajam dengan penerangan yang temaram membuat kami sangat hati-hati. Di sekitar Wonosari kami dibuat kaget dan saling bertanya-tanya diantara kami ketika berjumpa sebuah Bajaj yang akan kembali menuju Jakarta dengan 2 orang penumpangnya. Dilampu merah kami bertegursapa dengan si abangnya Bajaj. Ternyata mereka berasal dari Gunung Kidul dan berencana menuju Rawamangun. Cek cek cek… Kami cuman bisa berkata salut dan gila buat si abang bajaj…

Sesampainya di Malioboro kami pun parkir sejenak di Pasar Beringhardjo untuk menambah sesaknya kawasan Malioboro dengan menelusuri emperan toko & kaki lima sepanjang jalan ini. Kami pun menyempatkan diri singgah di Posyandu (Pos Pelayanan Dagadu) yang berlokasi di Basement Mal Malioboro.

Hampir pukul 10 malam kami tiba kembali dan dilanjutkan makan malam dan mandi untuk mengembalikan kesegaran tubuh yang cukup melelahkan untuk melanjutkan rute besok. Rencana kami akan shalat jumat di Masjid Kauman besok. Baru sadar perjalanan hari ini sangat jauh kurang lebih 150 km PP, namun jangan tanya rasanya.

..zZ..zz..Zz…..

bersambung…..

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s