Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

RISKA Road to Jogja 4

Tinggalkan komentar

Jumat, 19 Oktober 2007.

Bangun pagi ini rasanya dahaga shopping mengusik kami yang ternyata belum tuntas karena semalam sekedar lihat-lihat di Malioboro dan hanya mampir di Dagadu. Yang diinget kira-kira oleh-oleh apa yang cocok buat dibawa?. Terlihat banyak diantara kami yang masih bermanja-manja dengan kesibukannya masing-masing. Berhubung waktu check out diperpanjang maka kami harus nge-“loundry” sendiri pakaian dan menurunkan pakaian yang kemarin kami cuci. Kami pun tak perlu khawatir lagi karena sampai dirumah semua pakaian sudah bersih…

Lalu satu-persatu kami mandi setelah sarapan dan mengenakan pakaian terbaik berhubung hari ini akan Shalat Jumat. Sebelum berangkat kami memanaskan motor masing-masing. Sekitar pukul 9 kami rencana menuju Malioboro, Pasar Beringhardjo, Keraton, Masjid Kauman dan terakhir Selokan Mataram. Sesampainya di Malioboro kami langsung menuju pasar Beringhardjo untuk membeli Batik. Tidak salah kami dikawal bang Marlan yang bertindak sebagai PIC tawar-menawar.

Pemandangan yang asing terlihat ketika sepuluh anak cowok beriringan memasuki pasar sambil bingung harus milih batik yang cocok. Baik cocok dengan corak, apalagi harganya. Sekitar 4-5 kios kami singgah untuk memilih batik yang cocok dengan kami. Akhirnya sampailah kami di sebuah kios Batik yang setelah pilih-pilih dan diskusi kecil kami sepakat dengan corak Batik tsb. Nah, untuk urusan ini giliran bang Marlan yang maju untuk negosiasi. Harga pembuka disebutlah Rp 65.000.


Setelah cukup lama ternyata deal tidak terjadi. Menelusuri pasar dilanjutkan kembali untuk mencari yang pantas dipakai bersama. Dirasa tidak ada yang cocok disamping mepetnya waktu akhirnya kami kembali lagi ke kios tadi. Penawaran terakhir dikuatkan agar win-win solution dapat segera tercapai mengingat waktu Jumat makin dekat. Setelah cukup lelah tawar-menawar akhirnya kami memesan 28 buah kemeja batik lengan pendek dengan harga yang telah disepakati dengan sang penjual.

Hampir sejuta rupiah kami mengeluarkan uang tsb dengan ditalangi dulu oleh beberapa Sahabat demi pesanan dan rasa kebersamaan. Selesai bertransaksi, Toko Batik di Pasar Beringhardjo ini kami tinggalkan untuk segera berjalan menuju Masjid Kauman Yogyakarta yang lokasinya tepat di sekitar Alun-Alun. Tak ubahnya sebuah kota besar lainnya, kami disambut banyaknya gepeng digerbang masuk masjid. Ternyata jamaah sudah mulai berdatangan. Arsitektur Masjid yang megah ini kental dengan nuansa dan ciri khas keraton dengan ditopang oleh tiang-tiang dari pohon yang berdiameter 30 cm berlapis cat coklat kemerah-merahan.

Selesai Shalat Jumat dan berfoto kami menuju ke bangunan disebelahnya yang tak lain adalah Keraton Yogya yang cukup magis. Sayangnya bangunan saksi sejarah ini agak kurang terawat dengan banyaknya debu di komplek tsb. Tak terasa siang ini godaan Bakso dan Gudeg di seberang Keraton mengusik kami untuk mencicipinya. Selesai makan kami balik lagi ke Malioboro berburu “rempah-rempah” untuk dibawa pulang, termasuk singgah lagi ke Posyandu dan Toko oleh-oleh . Kalau bukan betis ini yang mulai pegal, bisa saja tanpa sadar kami keasyikkan menelusuri kawasan ini. Wow, tanpa sadar hari ini sudah senja dan rencana ke Selokan Mataram batal dan kembali ke Bantul dengan masing-masing membawa jinjingan dengan sumringah.

Sesampainya kami packing-packing barang dan merapihkan bawaan kami agar lebih praktis dijalan esok. Shalat, makan malam, bersih-bersih dan istirahat karena setelah shubuh kami akan berangkat ke Jakarta.

bersambung…..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s