Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

RISKA Road to Jogja 5 (Tamat)

Tinggalkan komentar

Hari terakhir ini tak terasa kami sudah satu pekan meninggalkan orang-orang tercinta. Ba’da shalat shubuh kami segera mandi dan bebenah lalu sarapan sambil musyawarah kecil. Namun, pagi ini ujian pertama kami datang: kopling motor Ayet patah. Ber-rembug sebentar lalu kami putuskan motor tersebut diderek oleh Scorpio-nya bang Marlan, kami pun mengiringi dari belakang. Dirasa semua sudah siap kami pamit dengan Ibunya bang Marlan atas jamuan dan sambutannya yang sangat terbuka dan antusias. Hati-hati dijalan begitu pesan beliau.

 

Tepat pukul 7 pagi kami meninggalkan kediaman yang mengesankan kami semua ini bertepatan dengan hujan rintik-rintik mengucapkan selamat jalan. Ya, selama sepekan disini cuaca sangat terik namun yang jadi tandatanya kali ini ketika kami akan pulang mengapa cuaca pagi ini ditemani mendung ditambah gerimis. Entah pertanda apa, hanya Allah Ta’ala yang tahu. Mungkin saja sedih harus ditinggal kami…. šŸ™‚

Sekitar 400 m jarak keluar dari sini kami mampir di Bengkel Motor yang masih belum buka untuk meminta tolong diakali saja agar tetap bisa dipakai sampai bengkel Suzuki terdekat. Sambil kucek-kucek mata mekaniknya keluar dan mencoba memeriksa.

Kami pun dengan harap-harap cemas menunggu dengan sabar disaat bersamaan beberapa rombongan pelajar beriringan dengan sepedanya menuju sekolah. Pemandangan yang jarang ditemui….

Akhirnya setelah dibor dan dililiti kawat, kopling tsb bisa digunakan. Sambil tetap dikawal bang Marlan kami tiba dijalan yang menuju kearah Wates (dibaca dengan aksen english). Namun, bengkel Suzuki belum pada buka disini. Disini kami berpisah dengan bang Marlan dan Irham yang akan melanjutkan perjalanan ke Solo siang ini untuk menghadiri resepsi kakaknya. Terimakasih yang tak terhingga yang hanya bisa kami ucapkan untuk bang Marlan.

Dengan percaya diri kami tetap melanjutkan perjalanan yang baru kami mulai ini. Di SPBU terdekat kami isi tangki dulu. Sampai jarak sekitar 2 km, ujian kedua datang: karburator motor saya kotor dan gas selalu mati ketika dilampu merah. Dengan usaha maksimal kami paksakan jalan sampai menemukan bengkel AHASS terdekat. Tapi apadaya, ujian ketiga kami datang: Suzuki Thunder-nya Dimas harus bocor bannya dirute yang banyak tanjakan berkelok ini. Alhamdulillah didekat situ langsung ada bengkel tambal ban.

Perjalanan dilanjutkan dengan kondisi motor saya yang masih sekarat dan motor Ayet dengan kopling genting. Dua jam perjalanan dari sini kami beriringan dengan motor dan mobil pribadi yang mulai ramai sebagai pertanda arus balik. Puluhan kilometer kami masih deg-degan karena belum menjumpai bengkel resmi sepanjang jalan ini. Alhamdulillah, bertepatan pukul 11 siang disimpang Karanganyar kami berhenti di bengkel AHASS untuk check up motor saya. Kami parkir didepan toko yang tutup persis dikanan bengkel dan barangpun kami bongkar, kami pun bergantiaan piket jaga. Saya segera daftar dan masuk antrian no. 6.

Sambil menunggu, kami makan mie pangsit di Warung yang ternyata memberi efek kantuk bersama sayup-sayup angin. Sambil menunggu satu-persatu kami tertidur dengan cukup lelap diruang tunggu. Sejam namun berkualitas. Waktu dzuhur pun masuk, kami segera shalat zhuhur di masjid pasar –yang cukup menusuk hidung kami– yang berada dibelakang bengkel tsb, namun kami sangat terkesan dengan bersihnya Toilet dan Tempat Wudhunya. Salut. Maaf-maaf, sepertinya lebih bersih dibanding dengan toilet MASK.

Pukul 13.55 motor selesai, semua kewajiban dituntaskan lalu kami segera meluncur kembali ke track dengan harap semoga kami tidak menemukan kendala ujian yang berarti.

Setelah berjalan cukup jauh kami shalat maghrib di Cirebon, berhubung disekitar masjid ini hanya ada yang jualan siomay dan baso, padahal kami sudah lapar akhirnya kami pesan siomay dulu. Setelah ‘isya kami lanjutkan menembus pantura sambil mencari tempat makan yang kira-kira representatif. Sampailah kami di kota Cirebon singgah ditenda pecel lele & nasi goreng. Cukup lama kami disini. Karena jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 8 malam, kami lanjutkan perjalanan ini yang mulai memasuki jalur berbahaya karena sudah ramainya bus malam. Hembusan angin malam dan kantuk yang mulai menyerang kami satu persatu karena kekenyangan apalagi jalur yang kami tempuh gelap gulita dan lurus terus sangat memungkinkan diserang kantuk. Tak disangka Harri yang membawa motor saya sempat tertidur sekitar 5 menit tanpa diketahui. Begitu pula para boncengers motor lainnya.

Dijalur indramayu yang gelap ini posisi Harri saya ambil alih dan memeriksa kondisi rekans lainnya. Setelah cukup save kami lanjutkan menuju kota Indramayu.

Lelah dan kantuk nampaknya sulit dikalahkan, berhentilah kami ditrotoar didekat simpang yang memasuki kota Indramayu. Sambil duduk sudah ada yang tertidur. Ternyata diseberang jalan terdapat Masjid Raya Indramayu, lalu kami istirahat dihalamannya yang cukup luas, kebetulan disini ada pedagang minuman dan makanan ringan. Saya dan beberapa Sahabat lainnya langsung rebahan dengan beratap langit, ternyata hampir satu jam tertidur. Sebentar namun berkualitas. Beberapa lainnya menikmati segelas kopi yang lumayan juga menahan kantuk dan lelah ini.
Karena tekad kami ingin segera sampai di Jakarta dan dirasa cukup fresh, kembali kami memasuki jalur yang seru ini. Berjalan sekitar satu jam dari sini, kami harus beriringan dengan segerombolan bus malam yang berkecapatan 140-160 km/jm dengan klakson cukup mengerikan. Mereka tidak peduli pengendara lainnya. Tak disangka beberapa sahabat mulai didera kantuk lagi. Wah gawat nie..! Kami akhirnya menepi di pinggir jalan. Satu persatu menurunkan tas masing-masing. Langsung “tepar” diemperan toko yang sudah pada tutup ini. Tidak peduli dengan sekitarnya dan kotornya lantai itu.

Melihat “keadaan” seperti ini kami akhirnya sepakat untuk meneruskan perjalanan mencari masjid terdekat. Tepat jelang pukul 00 dinihari kami sampai di masjid yang cukup besar dan ternyata disana sudah banyak pengendara yang mulai istirahat. Tak peduli keadaan sekitarnya kami langsung cari posisi berjajar dilantai teras masjid. Berselimut angin dan belaian hawa malam.

uhf… Sebelum adzan shubuh berkumandang kami satu persatu menuju toilet bersiap-siap untuk shalat shubuh. Langit mulai cerah pagi mulai menyapa. Pertanda waktu start akan dimulai. Tanpa sarapan berangkatlah kami melanjutkan ke track pantura yang sudah ramai dengan kendaraan arus balik. Jalur yang padat dan ramai ini terpaksa harus kami tempuh dengan menelusuri sisi kiri jalan dan berebut diantara kepungan Bus AKAP. Nekat & Dashyat.

Pukul 7 pagi kami sampai di Karawang persis waktu ketika kami berangkat lalu kami memasuki cikampek, bekasi hingga sampailah kami di kalimalang dan terus lewat bypass. Alhamdulillah atas Rahmat Allah Ta’ala –yang nama kami semua dalam genggamanNya– tibalah kami pukul 0915 di RISKA dengan selamat tanpa kurang suatu apapun. Kecuali, uang THR maksudnya he..he..
Terimakasih yang tak terhingga bagi orangtua kami atas doa dan ridhanya hingga kami tenang meninggalkan rumah.

Terimakasih banget kepada Eko Cahyadi, Daru dan Marlan yang udah menerima, menampung dan menjamu kami yang tak tahu malu ini. Hanya Rahmat dan Barakah Allah Ta’ala yang bisa membalasnya.

Terimakasih semua yang telah ikut serta dalam touring ini tanpa banyak neko-neko, dalam barisan yang utuh. Bahasa kerennya tsiqoh šŸ˜€ …

Tak lupa kepada Sahabat-sahabat kami yang care dengan pesan-pesan & remaindernya hingga tidak putus komunikasi selama kami dalam perjalanan ini.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s