Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Bukan Panggung Sandiwara

Tinggalkan komentar

Bismillahirrahmanirrahim

Orangtua kita dulu memberi nasihat kepada anak-anaknya yang hendak masuk ke jenjang kehidupan berrumah-tangga dengan bahasa seperti ini: “Jangan jadikan rumah tangga itu bak panggung sandiwara. Sekali memilih dan menetapkan langkah untuk naik ke pelaminan, maka jadikanlah perjalanannya secara langgeng dan lestari”. Amat sederhana, tetapi maknanya lebih luas dan mendalam.

Apa yang kita saksikan belakangan ini? Betapa banyaknya problema rumah tangga yang melintas dihadapan kita memang benar-benar seperti lakon sandiwara. Pelakunya melakonkan peran yang diberikan yang katanya didasarkan oleh cinta dan kasihsayang yang sehabis-habisnya, tetapi pada umumnya tak ubahnya seperti tanaman jagung; belum lama kita dengan atau hadiri acara walimah, tak lama kemudian pasangan itu berpisah: cerai!

Begitu mudahnya perceraian terjadi, bahkan dikalangan publik figur dilansir media massa menjadi berita hangat untuk konsumsi khalayak. Faktor penyebabnya pun beragam. Ada yang lantaran (1) sudah tidak cocok hidup bersama, (2) karena pendapatan nafkah yang tidak memadai, (3) adanya larangan isteri beraktivitas, (4) terjadi tindak kekerasan dalam rumahtangga, (5) hadirnya PIL atau WIL, yaitu pihak ketiga yang memancing perselingkuhan dan sebagainya.

Mengapa hal ini terjadi? Agaknya kita boleh mengatakan, lantaran para pasangan muda yang naik ke jenjang kehidupan rumahtangga itu kurang memahami tentang substansi terpenting dari rumus berumah-tangga atau berkeluarga; menjalin kehidupan sakinah, mawadah, warahmah. Yang sering terjadi, mereka seakan terjebak dalam ‘permainan dunia’ yang sekedar menyenangkan sesaat belaka. Ini sudah diantisipasi oleh al Quran yang termaktubkan di surat al Ankabuut: 64,

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan sendau gurau belaka dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui”

Yang dicari mungkin sekedar kesenangan dunia, sehingga tidak menempatkan maksud berumahtangga itu sebagai ibadah. Oleh karenanya tatkala terjadi percekcokan dalam pola hubungan suami-isteri, jalan pintaslah yang cenderung dipilih.


Ijab dan Qobul

Sahnya sebuah pernikahan itu adalah tatkala terjadinya pengucapkan ijab dan qobul, sebagai ikrar yang mengikat kedua pasangan pengantin secara lahir bathin. Ketika masing-masing terikat pada konteks ijab-qobul sebagai komitmen untuk bersatu, saat itulah mereka dituntut untuk konsekuen menjalani kehidupan suami-isteri. Susah-senang, baik-buruk, kaya-miskin, dan seterusnya harus dijalani dalam semangat senasib sepenanggungan bak orangtua kita dulu.

Hak dan kewajiban diantara keduanya harus ditegakkan sesuai dengan proporsinya. Suami menjadi pencari nafkah utama yang menghidupkan keluarga, sedang isteri menjadi pengatur rumahtangga menuju pada konteks kedamaian. isteri memelihara dan menjaga hak-hak dan kehormatan suaminya.

Boleh jadi isteri juga menjadi salahsatu penyanga ekonomi keluarga, tetapi tetap dalam posisi sebagai ‘penambah’ atau ‘penguat’ yang tidak menjadikan ‘tumpuan utama’. Disinilah biasanya terjadi ‘kericuhan’ itu, yaitu tatkala penghasilan isteri melebihi apa yang didapat sang suami. Tetapi kalau dibangun dasar kesaling-pengertian, tentulah beda pendapatan itu tidak akan jadi sumber masalah keretakan dalam rumahtangga.


Pecah di Perut

Jika ada masalah maka jangan sampai keluar rumah, karena akan banyak bisikan syetan yang masuk ikut mempengaruhi. Intervensi ‘orang luar’ itulah faktor pendorong keretakan dalam suatu keluarga. Jika ada hal-hal yang bisa memancing persoalan, biarkan itu pecah di perut dan cegahlah jangan sampai pecah dimulut. Sebab kalau pecah dimulut bahaya akan besar. Karena mulut itu bak harimau yang akan senantiasa menerkam mangsa. Hatta sang mangsanya adalah diri kita sendiri.


Tiga Marah

Yang tak kalah penting adalah hindari terjadi kemarahan pada tiga orang: suami, isteri dan mertua. Cekcok suami isteri akan menjadi bila telah pula ikut sang mertua. Mertua mestinya jadi juri damai yang baik dan adil yang senantiasa berupaya menjaga harmonisasi hubungan anak dan menantunya. Jangan sekali-kali ia ikut masuk ke wilayah ‘keributan’ anak dan menantunya itu, melainkan dengan nasihat yang baik dan bijak.

Jangan jadikan rumahtangga sebagai panggung sandiwara. Meskipun thalaq/cerai dibenarkan dalam agama, tapi itu bukan jadi pilihan jika tidak didasarkan oleh alasan yang pas dan benar.

Konflik Perkawinan

Dalam suatu perkawinan konflik bisa terjadi. Yang melatarbelakanginya banyak sekali mulai faktor ekonomi, sosial dan sebagainya.
Biasanya ada dua bentuk konflik rumahtangga itu yaitu:

Pertama, konflik terbuka (konflik destruktif), seperti baku hantam, cacian, tidak adanya komunikasi samasekali baik verbal maupun non verbal, tetapi tinggal serumah.

Kedua, konflik terselubung. Konflik ini biasanya ada lima perilaku. Perilaku tersebut antara lain:

  1. Strategi menghindar, misalnya, “engga apa-apa”, “saya tidak marah”, “Saya tidak tersinggung ulahmu”. Tetapi dengan mimik muka kontra produktif dengan ungkapannya.
  1. Strategi diskualifikasi (terselubung) contoh: “saya tuh ngga akan marah sekali, kalau anak kita tidak sakit sepeti ini.” Artinya terselubungnya kamu ibu yang…. tidak bisa merawat anak.
  1. Strategi displacement, menjadikan kambing hitam. Misalnya melampiaskan kejengkelan terhadap suami dengan memukul anak.
  1. Strategi disenggagement, mengtur diri untuk tidak saling bertemu dengan mengatur jadual pulang.
  1. Strategi pseudomutualitas, berpura-pura serasi.


Fattaqullaha mastatha’tum

[] dari berbagai sumber

– mfirmanshah –
‘selamat tinggal kebodohan dan pembodohan’
http://www.riskaonline.org/
https://mfirmanshah.wordpress.com/

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s