Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Berbagi yang hampir Tertunda di Pulau Tunda

Tinggalkan komentar

Ada yang berbeda pada suasana Idul Adha tahun 2007 ini. Sehabis shalat Id yang biasanya makan bareng keluarga, atau bersiap-siap melihat aksi pemotongan hewan Qurban dekat rumah, diisi dengan ngumpul di Taman Suropati. Bukan…bukan disana ada acara potong Qurban juga, atau malah mau ngantri minyak tanah (Loh?). tapi Kita lagi bersiap-siap buat berangkat ke Pulau Tunda, Serang Banten untuk melaksanakan Qurban. Yang kata bang ali, sebagai kepala suku bilang “kalo mo nyampe ke pulo itu musti naek kapal dulu.” Iya aja deh, walaupun kelihatan dari muka-muka yang ikut pada enggak tau tuh pulau adanya disebelah mana? Sebelum berangkat diabsen dulu, biar nanti kalau ada yang ketinggalan di pulau tunda bisa segera di evakuasi. Ya…pasti ada bang Ali, mba Hesti, mba Daru, mba Neni, mba Yanti, mba Happy, mba Kie juga ane, terus ada bang Firman, bang Nando, sama Iam. Hadir semua! Berangkat!

(jam 09.30 wib, pake mobilnya bang Nando n mba Yunis)

Bismillahirrahmanirrahim, mudah-mudahan cuacanya bersahabat. Perjalanan ke Banten Lama Cuma ditempuh 1,5 jam saja. Dilanjutkan dengan janji bang Ali tadi: Naik Kapal. Semua barang-barang u ntuk bertempur disana dipindahin ke kapal yang didominasi dengan warna kuning, dan ada logo Indosat-nya. Perjalanan di laut selama kurang lebih 2 jam terasa tidak membosankan. Ya…iyalah ada yang baru pertama kali ngerasain naik kapal, jadi kesempatan itu dipergunakan sebaik-baiknya untuk melihat-lihat pemandangan dan enggak lupa juga photo! Sssttt…photo nya jangan pada berisik, ada yang lagi tidur di sepanjang perjalanan J jadi inget buku yang judulnya “Life of Pi” ada yang sudah baca belum? Tentang perjuangan seorang anak yang terombang-ambing di laut selama berbulan-bulan dengan seekor singa, dengan hanya bertopang pada sehelai papan kayu.

Sampai dermaga pulau Tunda, disambut dengan hangat oleh warganya. Mampir ke Balai Desa dulu, beberapa menit kemudian hujan lebat dan badai kencang menghiasi kedatangan kita (serius loh!ga bo’ong). Tidak ada yang dapat membayangkan, bila kita masih berada di tengah lautan. Allah Akbar! Terimakasih ya…Allah telah memberikan perlindungan kepada kami yang berniat memenuhi perintah-Mu. Alhasil, di balai desa kita duduk merapat karena gentengnya bocor semua. Ehm…kayaknya Qurban-nya bakal tertunda, faktornya:

  1. Saat itu hari sudah mulai sore, apabila tetap dilaksanakan, mungkin sampai malam tidak akan selesai untuk mengulitinya.
  2. Habis hujan, tanahnya tergenang air semua.

Lalu, kita bengong-bengong aja dong nunggu besok pagi? Siapa bilang? Bang ali mau berubah jadi ikan tuh… J (ikan jenis apa bang?) kita Snorkling bareng, dipandu sama bang Ochid, yang telah berbaik hati menjemput pulang pergi ke dermaga, memberi tumpangan makan dan tidur di rumahnya, sampai nemenin kita ke suatu Pulau yang belum pernah terjamah (Hoa….?)

Akhirnya, 1 sapi dan 8 kambing yang telah menunggu dari kemarin untuk dipertemukan dengan Rabb-Nya berhasil dilaksanakan. Seluruh warga menyaksikan dengan khidmat. Ada yang jerit-jerit ketakutan, ada yang duduk tenang, ada yang serius ngeliatin, ada yang senyum-senyum sendiri (masa seh?), ada juga yang sok berani tapi matanya ditutupin pakai tangan he…oyyak, ne punya saran pribadi: kalau acara Qurban, sewaktu ada satu kambing yang mau dipotong, temen sesama kambing yang lain bisa enggak matanya ditutup atau enggak diumpetin dulu gitu. Kan kasian “dia” disuruh ngeliatin aja didepan mata kepalanya sendiri, temennya sesama kambing tentunya (soalnya takut ada manusia yang ngerasa temennya kambing) dipotong. Kalau kata bukunya Raditya Dika: jadi kesannya tidak berperikambingan.

(ini hanya sekedar saran, boleh kan?)

Selagi acara potong memotong hewan Qurban, agar tidak mengganggu kerja para Bapak, anak-anaknya dikasih games. Mereka menyambut dengan antusias, apalagi ada hadiah dan bingkisannya. Walaupun tidak semua anak dapat, makanya doain kakak ya…biar bisa kembali lagi ke pulau Tunda membawa banyak bingkisan.

Snorkling sudah, makan-makan sudah (pagi-siang-sore-malam menunya all about ikan, biar pada pinter!), jalan-jalan sudah, maen-maen sudah, sekarang waktunya pulang. Tapi, dapat kabar dari captain kapal kalau cuaca tidak memungkinkan untuk berlayar. Menurut teori nya begini: angin yang berhembus saat itu adalah angin Barat Daya, yang biasanya ada sekitar jam 15.00 sore. Hal itu memudahkan bagi pelayar yang ingin pulang kembali ke pulau Tunda. Tapi yang ada, angin itu sudah ada sejak pagi, hal itu menyulitkan pelayar yang berlayar dari Pulau Tunda. Bingung enggak tuh? Ya…pokoknya seperti itulah.

Lagi-lagi kebesaran Allah yang lewat campur tangan-Nya kita semua selamat sampai Jakarta lagi dan sekarang dapat menghadirkan tulisan ini buat Riskader.


(‘Ne)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s