Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Jumat: 010208

Tinggalkan komentar

Tepat dihari yang sama tahun lalu: Jumat. Musibah itu kembali datang menghampiri jutaan “anak manusia” penghuni belantara Jakarta dan sekitaranya.

Hari ini Jumat, 1 Februari 2008 seperti biasa saya sudah bangun shubuh (tepatnya dibangunin oleh Bunda) untuk ke masjid diseberang rumah kami. Berhubung shubuh kali ini pkl 4.45 dan sekitar pukul 5 saya kembali. Saya lihat langit sangat cerah dan bumi sangat damai pagi itu setelah semalaman dibasuh oleh rahmat Allah Ta’ala, hujan. Tenang rasanya pagi ini. Sambil memandangi langit, dalam hati saya bergumam dalam hati, “Alhamdulillah semalam sudah hujan, jadi pagi ini saya bisa berangkat dengan tanpa was-was harus menggigil berhujan-ria.” Entah tepat apa tidak apa yang terbesit dihati itu, saya pun tidak tahu. Ampuni Ya Allah jika hamba salah berpikir…

Pagi pun saya sarapan dan mempersiapkan diri untuk berangkat. Maklum hari ini hari Jumat tentunya kita harus menggunakan hati, pikiran & pakaian terbaik kita. Disamping itu dikantor hari Jumat boleh berpakaian bebas, sopan dan pantas. Ternyata tanpa diduga ketika selesai mandi, butiran air yang berdenting keras diloteng mengagetkan saya. Dan itu cepat deras. Sangat deras. Tentunya ini menyentak saya. Waktu pun terus berjalan dan pikiran ini masih bertanya-tanya.

Nampaknya hujan ini masih aja tetap deras pikir saya. Akhirnya kostum hari ini saya masukkan ke tas semua. Pagi ini saya masuk ke plan B dengan mengenakan t-shirt, celana pendek dan bermantel hujan berangkat menempuh derasnya hujan. Taspun bersembunyi dibalik raincoat…

Bunda pun bilang tunggu reda aja berangkatnya. Ucapan beliau menjadi pertimbangan tentunya. Namun di dinding jam sudah menunjukan pukul 7 pagi. Akhirnya saya pun izin pamit dan doa restu untuk tetap berangkat khawatir telat sampainya nanti. Karena tidak ada dalam kamus hidup saya untuk bertelat dengan sengaja dan tanpa bersalah.

Sepanjang jalan sudah mulai macet dan segala problemnya. Dijalan harus lebih hati-hati dan awas tentunya. Sesampainya di perempatan dari arah Kelapa Gading menuju Pulomas ternyata trafficlight yang sudah tidak berfungsi –sejak dua hari lalu saya pulang– sampai pagi ini belum menyala. Hal yang saya khawatirkan akhirnya terjadi juga. Macet dan perempatan ini terkunci karena semua kendaraan berebut ditengah guyuran hujan. Setelah lama menunggu saya pun harus mencari celah diantar mobil-mobil dan ikut-ikutan berebut. Keputusan ini harus diambil. Dengan penuh perdjoengan sampailah saya di seberang jalan, Pulomas yang menuju Jl Pemuda dan terus ke kawasan JIEP. Entah kemana bapak-bapak di Dishub & Polantas yang terhormat ketika situasi terjepit dan membiarkan saja lampu lalulintas padam sejak dua hari lalu.
Alhamdulillah dengan basah kuyup saya sampai dikantor pkl 7.42 lalu ke toilet untuk segera ganti pakaian dan menuju ruang kerja di lt 3. Bahkan beberapa rekans saya pulang lagi sebelum sampai kantor karena basah kuyup –disamping tidak bawa salinan– atau ada yang harus terjebak dijalan.
Sepanjang hari, hujan dtemani oleh petir dan gemuruh menaungi langit Jakarta. Rekans dikantor pun dibuat gelisah dan resah memikirkan anak, istri dan rumah mereka. Ternyata apa yang digelisahkan itu terjadi juga. Breaking news dan newsflash baik di TV, radio maupun internet menghiasi halaman berita nasional. Sampai SBY pun terjebak di Sarinah Thamrin saat menuju Istana.
Pukul 1400 diumumkan bahwa bagi karyawan diperbolehkan pulang lebih cepat. Namun saya tetap bertahan dikantor disamping banjir masih belum surut. Saat teringat, hari ini PARIS di RISKA temanya Syirah Nabawiyah. Menarik. Maghrib berkumandang dan sudah niat ke RISKA, tekad harus tetap dijaga. Didepan kantor airnya sudah surut. Saya ambil jalur kekiri menuju gerbang asrama brimob, karena kalau kekanan seperti biasa lewat gerbang tugas genangan airnya lebih dalam. Sepanjang jalan banyak motor yang harus dituntun dan mogok. Saya hanya bisa berdoa agar bisa melewati rintangan banjir ini. Dari RISKA pukul 20.40 dan sesampainya di depan Gudang Garam kemacetan tak terhindarkan karena hanya satu jalur yang dilalui oleh dua arah. Lalu dengan yakin dan tekad kuat saya beranikan menembus banjir ini dan langsung memasuki fly over dan turun di depan AHM sunter yang disambut tidak kalah dalamnya banjir. Bersama banyak pengendara motor saya memasuki jalan layang menuju Tg Priok.
Maha Besar Allah dengan segala rencananya –yang hidupku dalam genggamanNya– pukul 2130 saya sampai di rumah dengan perasaan deg-degan dan khawatir yang sangat jika motor saya harus mogok sedangkan bengkel tidak ada. Semuanya itu terkalahkan dengan Rasa Takbir dan Syukur sepenuhnya melewati rintangan ini.
Puji Syukur yang tak terhingga hanya ke hadirat Allah Ta’ala…. ALLAHU AKBAR !!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s