Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Bosan Jadi Penerima Daging Qurban

Tinggalkan komentar

Sahabat RISKAder semua…
berikut artikel Bang Bayu Gawtama yang tayang di koran Republika jumat 301107 yang saya tulis lagi…
Moga menjadi inspirasi besar bagi kita semua. Amin .

Tahun lalu, seorang sahabat bertandang ke rumah dan mengungkapkan satu keinginan orangtuanya. “Ibu saya bilang sudah bosan menjadi penerima daging qurban. Ibu ingin sekali tahun depan keluarga kami bisa menyembelih seekor hewan qurban” begitu lirih sahabat saya.

Saya menyentuh tangannya, memegangnya erat-erat sambil berkata “kamu bisa mewujudkan keinginan ibumu. Tahun depan itu masih ratusan hari lagi, dan sangat mungkin itu bisa terealisasi” saya menepuk semangatnya.

Apa yang terjadi hampir satu tahun kemudian adalah sesuatu yang sudah bisa diduga. Belum lama ia menelpon dan bertanya tentang harga seekor kambing untuk berqurban. “Saya punya tabungan delapan ratus ribu, apakah sudah cukup untuk membeli seekor kambing?” tanyanya bersemangat. Tentu saja uang sejumlah itu sudah lebih dari cukup untuk seekor kambing.

Ia pun membawa kabar gembira itu kepada ibunya di rumah dan mengatakan akan segera ada hewan qurban di rumah itu. Semua anggota melonjak kegirangan dan air mata bahagia tak tertahan tumpah ruah bersamaan dengan datangnya kabar tersebut. Bahwa ia, sahabat saya itu, lelaki satu-satunya dikeluarga itu semenjak sang Ayah berpulang sebelas tahun yang lalu, akhirnya bisa mewujudkan mimpi sang ibu untuk berqurban.

Menurutnya, lantaran keluarga mereka termasuk dalam kategori miskin, maka setiap tahun pula mereka selalu mendapatkan jatah zakat fitrah maupun daging qurban. Bahkan setiap kali ada perayaan hari besar Islam yang menyertakan acara santunan bagi anank-anak yatim piatu. Ia beserta ketiga adiknya tak pernah terlewat dalam catatan panitia penyelenggara sebagai penerima santunan. Tidak hanya itu, bahkan sang Ibu pun masuk dalam daftar penerima, dengan status janda miskin.

Tahun ini, merupakan tahun paling membahagiakan dikeluarga itu. Bayangkan, bukan bermaksud menyombongkan diri jika di hari raya Idul Adha nanti keluarga ini akan menolak kiriman daging qurban dari panitia masjid. Dengan sedikit bangga mereka akan berkata. “Terimakasih, kami sekeluarga pequrban. Silahkan berikan kepada yang lain yang lebih berhak”.

Kalimat bangga semacam ini pula yang belum lama ini mereka miliki menjelang Idul Fitri. Keluarga ini memohon kepada panitia zakat untuk tak memasukkan namanya dalam daftar mustahik tahun ini. Dan luar biasa, hal itu memang mereka lakukan karena keinginan kuat mereka utnuk memperbaiki kualitas dan taraf hidup mereka. “Siapa yang mau seumur hidup menyadang status fakir miskin? Kami harus berubah”.

Sepakat dengan semangat keluarga ini. Bagaimana pun hidup dibayangi belas kasihan orang lain tetaplah tidak nyaman. Senikmat-nikmat makanan adalah yang dihasilkan dari jerih payah dan hasil memeras keringat sendiri, bukan dari pemberian orang lain, bukan dari usaha tangan dibawah alias meminta-minta.

Si Sulung, sahabat saya ini membawa keluarganya pada posisi yang lebih terhormat. Mereka bukan lagi golongan musthaiq, melainkan muzakki. Ia senantiasa bersedekah dan berinfaq, tak lagi berharap sedekah orang untuk menghidupi ibu dan adik-adiknya. Dan dihari raya Qurban tahun ini, keluarga ini benar-benar akan mengatakan “kami bosan menjadi penerima daging qurban”

Sungguh, berinfaq, bersedekah, membayar zakat, juga berqurban, tak semata menjalankan perintah Allah. Secara langsung semua aktivitas “tangan diatas” ini serta merta menignkatkan derajat seseorang. Baik derajat ketaqwaan dimata Allah, maupun derajat sosial dimata masyarakat sekitarnya. Wallahu’a’lam/ [Gaw]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s