Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Berhala itu bernama: Handphone

2 Komentar

Tanpa sadar handphone telah menjadi sebuah berhala yang selalu mendampingi hidup kita.

[QS Yunus 10:29] Dan cukuplah Allah menjadi saksi antara kami dengan kamu, bahwa kami tidak tahu-menahu tentang penyembahan kamu (kepada kami)[688].

[688]. Maksudnya: orang-orang yang menyembah itu sebenarnya bukanlah menyembah, hanyalah menyembah hawa nafsu mereka sendiri, karena hawa nafsu merekalah yang menyuruh menyembah.

[an Nissa’ 4:117]. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah setan yang durhaka.

Handphone pada awalnya hanyalah alternatif atau output dari sebuah riset, namun dengan beragam merk, fitur, variasi maupun program-program yang ditawarkan baik oleh vendor sendiri maupun sang operator telah menjadikan handphone berhala baru disaku, pinggang maupun tas keseharian masyarakat. Anda bisa saksikan jika di tempat keramaian, di tempat Anda beraktifitas, bahkan di sekolah dan dirumah sekalipun, sebuah benda yang bernama handphone itu menempati perhatian lebih oleh pemiliknya.

Handphone sebagai sebuah alat bantu komunikasi yang sangat familiar disemua kalangan mulai dari eksekutif muda, jurnalis, pembantu rumah tangga, tukang ojek maupun dosen bahkan sampai anak belum sekolah sekalipun. Diawal kemunculannya, benda tersebut masih merupakan barang mewah dan terbatas. Namun seiring dengan penetrasi pasar, gencarnya riset sampai kampanye hedonis dan konsumerisme telah menjadikan ia lebih dari sekedar alat komunikasi. Kehadiran sebuah teknologi tidak terlepas dari dampak positif dan negarif tentunya.

Jika dilihat dari kehadiran dan manfaat atau kegunaan sebuah “alat bantu” komunikasi tentu benda tersebut harus dapat meningkatkan makna dan peran serta efektifitas jalur komunikasi maupun informasi bagi pelakunya. Namun kini dihadapkan bahwa peran dan fungsi alat tersebut mau tak mau harus bergandengan dalam segi entertainment & hiburan. Yang pada dasarnya hanyalah rekayasa dari Industri tersebut dan seolah-olah menjadi kebutuhan bagi konsumen yang lagi-lagi kembali demi kepentingan kapital.


Pengalaman yang banyak dijumpai dan mungkin aneh disaksikan adalah ketika handphone sering “ditengokin” yang notabene tidak ada nada panggil atau pesan masuk. Atau misalnya saja ketika di angkutan pribadi atau umum seorang anak asyiknya memainkan handphone tanpa peduli dengan ayah atau ibunya disampingnya. Perjalanan yang singkat menuju sekolah yang bisa dimanfaatkan –ditengah kesibukkan orangtunya– sebagai diskusi ringan dan riang menjadi menguap sia-sia. Belum lagi bayang-bayang akan lunturnya faktor kepekaan dan interaksi intens antar seorang anak dan orangtua menjadi tak membekas. Apa jadinya ketika sang anak kelak menjadi dewasa dan memimpin masyarakat tanpa rasa peka.


Atau dalam kasus lain, sulitnya melepas perasaan & mengungkapkan kejengkelan saat bagaimana rasanya ketika Anda berkumpul dalam satu meja atau perjalanan, rekan atau teman Anda begitu asyiknya dengan “benda kecil” ditangannya.
Dia berada disamping Anda namun rasanya seperti tidak saat-saat bersama Anda. Mulai dari program games, sms maupun telpon-telponan yang begitu gencarnya dijejali oleh operator sehingga mengusik dan membuai konsumen dan calon konsumen sekalipun.


Sampai-sampai didepan pintu masuk masjid harus ditulis peringatan agar menon-aktifkan handphone sebelum memasuki ruang ibadah. Tak lupa seorang Imam pun harus kembali mengingatkan jamaah sebelum shalat demi menjaga kekhusyuk-an ibadah berjamaah. Dilain tempat, seorang siswa tak segan-segan mengangkat telpon masuk disaat sang dosen mengajar tanpa meminta maaf dahulu. Disaat rapat formal maupun informal baik itu di instansi swasta sampai dilingkungan komunitas religius sekalipun mungkin etika berhandphone banyak yang tidak menyadari. Lalu dimana etika ber-handphone dijunjung ? Dan sopan santun sudah kurang diindahkan.


Apakah harus seperti ini nasib jika hidup dan berada dinegara yang terus menjadi target pasar disaat yang sama masih lemahnya budaya membaca dan belum tertanam kuat diperilaku masyarakat kebanyakan. Lompatan budaya dari tradisi lisan –tanpa harus melawati tahapan tradisi membaca– ke budaya visual telah mengantarkan perilaku anggota masyarakat lebih senang akan hal yang praktis dan simpel.
Dan ironisnya sebagian besar korban dari perilaku konsumerisme adalah kalangan pelajar dan akademisi.

Handphone telah menjadi sebuah berhala diawal abad ini. Sekarang, bagaimana dengan Anda ?

rawagelam satu nomor sembilan, 19 feb 2008

Iklan

2 thoughts on “Berhala itu bernama: Handphone

  1. setuju

    etika berhandphone memang perlu dijunjung.

    banyak orang sekarang tidak tahu sopan santun, dan respek dengan lingkungan. terpaku pada handphone yang dibawa tanpa peduli lingkungan sekitar. baik sedang jalan, berkendara, maupun sedang menghadap atasan.

  2. Ping-balik: Tak Tahu Adab di Masjid « Laskar Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s