Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

perasaanku tentang tanpa perasaanmu

Tinggalkan komentar

mungkin diantara kita semua ini pernah dibuat jengkel, mangkel atau perasaan sejenis yang menghinggapi jiwa ini. Rasanya memang menyebalkan dan otak ini disuruh bekerja lebih bagaimana cara agar dia/kamu/mereka minimal mengerti perasaan kita sendiri ini. Syukur-syukur bisa kita mengungkapkannya secara lisan dan tidak menyakiti perasaannya itu. Ybs pun mengerti dan tahu bagaimana menjengkelkannya sikap atau perilakunya terhadap kita. Dan itu sangaat tidak kita sukai.

 

Bagaimana cara mengungkapkan bagaimana perasaan ini bagi setiap orang berlainan. Ada yang lebih mudah mengungkapkannya secara lisan dan melalui kata-kata yang berbelit-belit atau bahkan berbelok-belok dulu penuh majas. Tapi tidak sedikit diantara kita yang bisa mengungkapkannya dengan “mengena” dan sah-sah saja tanpa khawatir. Terlepas ungkapan via lisan ini berdampak konstruktif maupun destruktif baik bagi pelakunya maupun kita yang sebagai korban.

 

Sebagai bagian dari makhluk sosial tentu kita menjadi bagian anggota tim, baik itu mulai sebagai anggota keluarga, anggota masyarakat, anggota tim sekolah sampai anggota tim di organisasi. Terlebih kita menjadi bagian dari tim dalam dunia kerja yang bertemu & bermitra setiap hari. Banyak pertimbangan apalagi kita ini yang berasal dan sebagai orang yang dibesarkan dalam tradisi timur yang menjunjung tenggangrasa.

 

Itulah yang kini (kemarin Red.) saya alami terhadap perasaan jengkel kepada salahsatu rekan kerja yang tidak bisa menjadi bagian anggota tim yang sinergis. Tidak cukup sekali bicara dan diingatkan. Pandai berkelit dan retorika memang sudah jagonya. Mungkin ia salah jurusan eh salah penempatan di Departemen ini dan lebih cocok dibagian Public Relation atau Promosi Marketing.

 

Belum lagi soal jika atasan kita yang tidak meresapi esensi perjuangan dari anggota timnya. Sibuk sounding-sounding, lobby-lobby atau ngobrol-ngobrol yang diluar konteks pekerjaan. Ya, karena memang banyak dinegeri ini mental lapuk orang / oknum yang lebih mencari aman dan “bersih” dimata atasannya. Ia sibuk menjaga wibawanya dimata anggota timnya. Ia sibuk dengan hal-hal yang remeh temeh dan tidak esensial. Ya tentunya hanya sampai kulitnya saja. Toh setelah ia bukan menjadi bagian anggotanya atau dia bukan sebagai atasannya lagi, hilang langsung semua hal yang dijaga dan dibangga-banggakan itu. Tugas yang rutinitas pun sulit mengambil keputusan yang tepat dan cermat. Terlalu banyak pertimbangan. Tidak tegas dalam pendelegasian tugas ke anggota tim. Kontrol dan review tidak pandai. Dalam artian semuanya dilimpahkan ke timnya. Ia hanya bertanya dan itu tergantung sepenuhnya ke anggota timnya. Sesuatu yang sudah disepakati dalam forum rapat tim, semuanya menjadi mentah lagi diluar.

 

Apa ini yang disebut kepemimpinan ? Model kepemimpinan apa yang dianutnya? Entahlah !

Wallahu’alam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s