Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Bukan Mencari Se”suap” Nasi

Tinggalkan komentar

“Pagi Pak Firman… Bagaimana Kelanjutan Proses Rekruitmen Saya ? (Nama Kandidat, Bandung. Contract Pending, Health Treatment Suggestion). Jika Proses Tersebut Membutuhkan Biaya, Bapak Tinggal Tentukan Nominalnya Berapa & Saya Akan Transfer Ke Nomor Rekening Yang Bapak Beri. Terimakasih”

================================================================
Apa yang ada dalam benak Anda setelah membaca informasi diatas ?
Sengaja saya tulis “nama kandidat” sebagai pengganti frase nama sebenarnya.

Kalimat diatas adalah salahsatu bunyi sms yang saya terima diawal tahun ini setelah ybs selalu menghubungi handphone dalam durasi yang sangat sering sekali untuk ukuran seorang kandidat dalam proses seleksi yang selama ini saya tangani. Walaupun saya tidak pernah memberikan janji manis pasti akan diterima dan jawaban yang saya beri selalu bahwa “proses Anda belum selesai” atau “jawaban belum bisa saya informasikan saat ini” bahkan kadangkala saya sudah tekankan “untuk siap menerima keputusan terburuk” dan sinyal-sinyal seperti “mulailah coba mencari kesempatan ditempat lain” atau “jangan terlalu berharap lebih.” Namun nampaknya ybs masih juga tidak mengerti dan kekeuh mengejar saya.

Saya berada dalam suatu sistem yang memang memiliki otoritas untuk melanjutkan atau tidaknya proses seorang kandidat terlepas ybs potensial tidaknya, entah kenal atau tidak bahkan memiliki referensi atau tidak. Kalau saya ambil kesempatan yang ditawaran diatas dan pimpinan itu belum tentu akan tahu detail sebuah proses seorang kandidat mengingat ribuan kandidat yang harus ditangani dari seluruh Indonesia dan setiap tahap pasti memiliki problematika yang variatif. Benar juga istilah yang sudah sering kita dengar : kejahatan bukan karena ada niat tapi karena ada kesempatan.

Inilah kesempatan korupsi atau potensi suap yang pertama saya terima secara terus-terang setelah tiga tahun mengurusi proses rekruitmen dan seleksi calon karyawan baru dikantor saya. Ini baru dilingkungan PMDN dan bagaimana dengan lingkungan BUMN / PNS yang banyak menggiurkan dan potensi “lahan basah” saya tidak tahu persis. Potensi suap/korupsi/nepotisme dalam proses seleksi karyawan disegala aspek memang masih kuat menjalar dinegeri ini.

Bunyi sms tersebut sudah lama tersimpan dimemori handphone dan baru saja saya hapus semalam dan saya berbagi cerita melalui blog ini tak lain semata bahwa potensi dan kesempatan untuk berbuat diluar ketentuan itu ada disemua lapisan terlepas ia berasal dari keluarga yang baik, pribadi yang shaleh atau dilingkungan yang religius. Lalu kembali dengan diri kita sendiri dan tentunya berlindung dari hasutan dari orang-orang terdekat atau godaan yang diterima dari lingkungan kita masing-masing. Itulah salahsatu pengalaman yang saya terima semoga menjadi hikmah bagi saya pribadi dan yang membaca. Amin.

Akhirnya saya panjatkan doa padaMu Ya Allah, semoga Engkau tetapkan hamba dalam pelukkanMU dan hidayah ini terus terjaga menelusuri dan meraih tekad dan cita-cita sepanjang hayat dan keridhaanMu menyertai saya, keluarga serta keturunan senantiasa selalu hingga kelak ditanya “Man Robbuka?” [mfirmanshah]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s