Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Yang Muda Yang Memimpin

Tinggalkan komentar

Jelang tanggal-tanggal peringatan dirgahayu Republik Indonesia tahun ini, saya baru tersadar setelah dimana-mana dikibarkan umbul-umbul, spanduk maupun dimedia massa tertulis dengan jelas : 63 Tahun Dirgahayu Indonesia. Ya, 63 tahun, apa yang terlintas langsung mengusik dalam pikiran ini dan tertuju atas Baginda Rasulullah tercinta yang menghadap-Nya dalam usia 63 tahun. Akankah Malaikat Izrail datang dengan tiba-tiba datang mencabut nyawa Indonesia karena terus menyaksikan carut marutnya sistem yang membelenggu bangsa ini. Namun saya segera menepisnya dalam pikiran saya, harapan itu harus terus ada, selama yang muda masih sadar atas sebuah perubahan dan tidak terlena dalam zona nyaman.

Tengoklah sejarah bagaimana kaum muda tersebut begitu pro aktif mengambil perannya masing-masing sesuai dengan kompetensinya sesuai dengan situasi dan dinamika yang harus dihadapi. Sukarno muda dalam usia 25 tahun dengan semangat berkobar-kobar menggalang pemikiran, tindakan dan pergerakan para tokoh-tokoh dalam menggalang memerdekakan Indonesia. Tentu semua usaha ini tak terlepas dengan sinergi perjuangan kaum muda terdidik yang sedang menuntut ilmu di negeri seberang yang dengan lantang menyuarakan kemerdekaan Indonesia yang tentu mengkhawatirkan para kolonial. Juga dalam usia 25 tahun, Mohammad Hatta berpidato didepan “Liga Wanita Internasional untuk Perdamaian dan Kebebasan” pada tahun 1927 di Gland Swiss berbicara tentang “L’Indonesie et son Probleme de L’Independence” (Indonesia dan Persoalan Kemerdekaan). Hatta tidak peduli dengan nasibnya yang mengalami pembuangan ke banda naira atau hukuman penjara di Negeri Belanda seperti pejuang pada umumnya bersama Nazir Sutan Pamontjak, Ali Sastromidjojo dan Abdul Madjid Djojodiningrat. Perjuangan kaum muda semacam inilah yang menjadi trigger dalam sebuah api perubahan, memerdekakan Indonesia.

Perjuangan panjang tersebut terbukti dengan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan tepatnya 63 tahun lalu, Jumat 17 Agustus 1945 Sukarno (44 tahun) dan Mohammad Hatta (43 tahun) dengan sekelompok pemuda atas nama bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaan Indonesia menjadikan Indonesia menjadi negara ke-70 yang lahir. Beliau dikelilingi oleh yang muda pula mulai dari Mr Mohammad Yamin (42 tahun), Mr Achmad Soebardjo ( 49 tahun) mapun Mr Soepomo ( 42 tahun). Bahkan yang lebih muda seperti Mohammad Natsir (37 tahun), Mohammad Yamin (42 tahun), Sutan Syahrir (36 tahun) dan KH Wahid Hasyim (31 tahun) muncul. Merinding mendengar nama mereka. Ya, sejarah tak pernah menampik bahwa sekelompok pemuda yang berani mengambil resiko dan tidak peduli diantara ancaman global saat itu yang dipenuhi dengan pendekatan kekuatan militer baik dari Timur maupun Barat yang masing-masing tidak rela melepaskan daerah kolonialnya atas nama eksistensi politik, ekonomi dan fikrah mereka.

Belum lagi peran yang tidak kalah essensinya, cendekiawan muda yang belajar di Timur Tengah yang pertama kali menyiarkan proklamasi Indonesia kepenjuru dunia. Bagaimana mungkin jika rasa ukhuwah islamiyah itu tidak ada seorang pemimpin Ikhwanul Muslimin, Hasan al Banna bersama koleganya dari Indonesia sampai menghasilkan sebuah keputusan penting yang dikeluarkan Mesir untuk pertama kalinya menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia yang terus diikuti oleh negara-negara lainnya. Sebuah negara tak akan lengkap jika belum ada pengakuan kedaulatan dari negara lain. Keberanian pemuda Indonesia membangunkan keberaniaan negara Asia Afrika lainnya untuk memproklamirkan diri.

Selain usia muda, para pemimpin kita saat itu juga memiliki kualitas berpikir yang luarbiasa, bahkan untuk ukuran saat ini. Walaupun mereka hidup dalam alam penjajahan, namun banyak dari mereka yang berhasil mendalami ilmu hukum, kedokteran maupun ekonomi. Belum lagi penguasaan asing mereka yang juga luar biasa yang diiringi dengan tidak pernah puas melahap berbagai macam buku maupun literatur. Mereka tidak saja pandai berpidato maupun berdebat namun juga piawai dalam menulis. Ini sebagai hasil dari kebiasaan mereka banyak membaca, berdiskusi dan berpolemik (tidak debat kusir) dan kreatif dalam berpikir dan egaliter penuh keikhlasan mendahulukan kepentingan ummat.

Namun setelah 63 tahun ini, bangsa ini yang sedang euforia jelang suksesi kepemimpinan pada tahun 2009 masih dililit dengan problem yang terus dipelihara dan rasa keinginan untuk mengejar ketertinggalannya begitu tersumbat. Para pengambil kebijakan menjadi tuli dan mati hatinya setelah menjual kecap saat pemilu lalu dan mereka menjadikan perubahan yang diinginkan reformasi menjadi lamban dan diorientasi. Mereka pula yang secara nyata membuat kebijakan di sektor energi yang mementingkan para pemilik modal dengan praktek kolusi yang dipenuhi korupsi antara pejabat, birokrat dan pengusaha busuk. Makanya tidak perlu heran sejak bergulirnya reformasi dan silih berganti pemerintahan, angka kemiskinan (16-17 %) dan pengangguran (9 – 10 %) tetap saja tinggi. Ibu-ibu kami dilarang menggunakan kompor minyak tanah dan bingung harus mencari kemana dengan harga yang sudah tak terjangkau. Sehingga apa yang menjadi program pemerintah macet seperti konversi minyak tanah dengan gas elpiji diatas karena terbentur regulasi bahwa distribusi Gas untuk domestik hanya 25 % dari produksi. Lalu kemana 75 % lainnya?  Pertanyaan yang musti dijawab.

Atau ketika negara tetangga berupaya sekuat tenaga menggenjot sektor pendidikan seperti Thailand dengan mengalokasikan 30 % dari APBN untuk sektor pendidikan. Belum lagi negara tetangga yang gencarnya mempromosikan fasilitas dan insfrastruktur serta jasa di sektor pendidikan maupun kesehatannya keluarnegeri seperti dengan mengundang jurnalis dari berbagai negara, sehingga sekembalinya mereka akan menulis dimedianya dengan antusias dari sisi positif. Sementara nasib pendidikan dan kesehatan di Indonesia masih merana, guru-guru yang langka dan buku-buku yang sangat terbatas dan tak terjangkau, anak-anak yang terpaksa Lillahita’alla dan bertawakal dengan berucap “semoga hari ini gedung sekolah kami tidak roboh Ya Allah”.

Kita merindukan hadir dan tampilnya pemimpin-pemimpin muda berusia 40 tahun-an. Rasanya sudah sunatullah jika kita mensyaratkan pemimpin berusia muda. Rasulullah diangkat menjadi Rasul dalam usia 40 tahun. Istilah dimasyarakat, usia 40 tahun awal dari kehidupan baru seseorang karena kita butuh Pemimpin  yang cerdas tidak hanya secara intelektual namun matang secara emosional. Semua problem yang melilit Indonesia dibutuhkan seorang pemimpin yang visioner, inspiratif dan kreatif. Tidak kalah penting lainnya yang menjadi acuan adalah atas keshalihannya calon seorang pemimpin, insyaAllah dapat mendorong dan memberi aura keshalihan sosial pula.

Untuk itu, janganlah Indonesia masih berkutat dan “tersandera” oleh dominasi calon kepemimpinan dari kaum yang tidak muda lagi. Sebagai contoh biografi para tokoh seperti SBY (mendekati 60 tahun), Megawati (61 tahun), Wiranto, (61 tahun), Abdurahman Wahid (68 tahun) maupun Sutiyoso (64 tahun) dan Akbar Tandjung (63 tahun). Setelah lama tersandera oleh otoritarianisme panjang yang berakibat stagnasi kaderisasi kepemimpinan, hendaknya kita kini tidak perlu terpaku dan segan untuk mendorong kaum muda untuk terlibat lebih jauh dalam mempengaruhi kinerja dunia usaha, budaya dan sosial guna melahirkan iklim segar yang penuh dinamis dengan menghargai kearifan lokal dan mengutamakan tata kelola yang baik.

Dengan semangat Proklamasi ini hendaknya mendorong kaum muda tidak ragu membawa perubahan dan perbaikan dalam merealisasikan impian bapak-bapak para pendiri bangsa menuju terbangun dan terwujudnya Indonesia yang Adil, Sejahtera, Cerdas dan Santun. Amin !

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar ! MERDEKA !!!

* Ahad, 170808 pukul 10 pagi setelah upacara di kantor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s