Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Jelang Malam Pertama Ramadhan

Tinggalkan komentar

“Hari minggu, mulai jam 10”

demikian balesan sms yang masuk ke inbox saya ketika Indra Wijaya, rekan saya pada Kamis 290808 malem saya tanya “Jam berapa kita dikampus untuk presentasi tugas Sistem Informasi Dakwah?” sebagai penegasan kembali dan memastikan agenda yang sudah disepakati antara siswa dengan dosen penguji. Alhamdulillah, ternyata masih lusanya. Syukur saja saya sms dia, kalau tidak saya sudah dateng ke kampus pada esoknya (Sabtu, 300808).

Pas hari Ahad tiba, paginya saya sudah pikirkan hendak kemana hari ini. Hari terakhir dibulan sya’ban. Walau esok sudah Ramadhan, kami dikampus masih berjibaku memikirkan presentasi produk tugas akhir semester. Masya Allah. Toh bagaimanapun juga fase ini harus dilewati kami bersama. Saya rencanakan pukul 0800 berangkat dari rumah mengingat harus ngedrop adik yang pagi ini mengikuti Tes Pembuatan SIM Komunitas dikantor sebelum kekampus. Selepas sarapan dan mandi saya berangkat menunaikan tugas-tugas yang sudah menanti. Baru saja memasuki gerbang kawasan industri pulogadung selepas lampumerah perempatan Tugas, motor yang dikendari oleng, minggir sebentar memastikan, ternyata roda belakang gemboz, Astafirullah. Dibenak langsung teringat, bahwa diseberang tersebut terdapat bengkel motor di dekat pintu keluar gerbang Tugas. Motor pun saya tuntun yang sempat khawatir juga karena bengkel tsb tutup.

“Bang, permisi bisa tambal ban nih bang ?, baru aja masuk kawasan..”
“Yahh Mas, orangnya lagi nyekar dari pagi tadi” disahut oleh dua pemuda yang sedang duduk dibangku kayu tsb.

Sedih mendengarnya, tradisi ziarah atau nyekar masih kental dimasyarakat, yang mereka sendiri tidak tahu dari mana tuntunan ada ajaran tersebut. Hanya mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka. Semoga kita semua dituntun oleh hidayah Allah Ta’ala.

“Hmmm,.. kalau gitu dimana lagi saya bisa tambal ban deket sini Bang..?” sambil menunjukkan wajah pasrah dan berharap.

belum sempat dibalas, seorang remaja yang juga sedang utak-atik motor bergerak dan menunjukkan bahasa tubuhnya bahwa siap melayani calon konsumennya walau kondisi sedang tidak buka bengkelnya. Bergegas ia kebelakang, sebentar sudah kembali dengan membawa kunci dan membuka “bengkel box” nya sambil mengeluarkan semua properti pendukungnya.

“ente bisa nanganin ini ?”
“Iya” jawabnya singkat.
“ok, tolong banged yah…”

Alhamdulillah. nampaknya ia tipe seorang yang tidak menyia-nyiakan peluang income. Bagi saya pun juga begitu, sangat terbantu karena lumayan juga jika dorong sana, dorong sini mencari tukang tambal ban. Tambal ban itu memang sangat tipis antara mencari rezeki dengan menolong orang yang kena musibah seperti saya ini. Semoga semua yang ia lakukan bernilai ibadah.

Hampir satu jam saya habiskan waktu dipinggir jalan masuk kawasan JIEP ini, ada tiga lubang yang menggembosi ban belakang motor. Setelah berterimakasih saya bergegas menuju kantor untuk mengantarkan adik saya mengingat waktu tinggal 30 menit lagi dari pukul 10. Hanya lima belas berselang saya meninggalkan kantor menuju kampus, tak lama tiba dikampus saya dapati teman-teman masih nongkrong diluar, informasi yang saya terima, si Mahfud pagi tadi istrinya baru melahirkan. Antara kabar gembira dan khawatir. Bagaimana tidak, ia belum tahu apakah bisa atau tidak kekampus.

“tapi dia akan usahain” kata rekan saya, Septi saat setelah mengontak dia yang khawatir juga karena bahan presentasi sudah diserahkan ke dia. Kalau tidak maju hari ini, tentu sudah tahu konsekuensinya.

Tak lama, kami lega karena info yang didapat bahwa dia akan datang. Kami pun masuk ke kelas dan mengikuti presentasi rekan-rekan lainnya bersama 3 orang dosen sebagai panelis penguji. Tak disangka acara ini berlangsung hingga sore pukul 16.

Selesai dari sini, Sekret RISKA yang berantakkan sudah hinggap dipikiran ini, keluar kelas saya segera bergegas dan pamit dengan rekan-rekan disamping khawatir juga hujan kembali turun. Di RISKA saya sudah berencana bertemu dengan Tukang, Bang Qosim untuk membicarakan rencana berikutnya memperbaiki sekret. Namun selepas shalat ashar di Masjid Sunda Kelapa, konfirmasi yang saya peroleh dari Kiki Zakiyah bahwa dia sudah pulang ba’da Ashar. Alhamdulillah semua loker sudah selesai diservis, kecuali buffet. Aduwh. OK kalau gitu, bersama Kiki, saya memastikan pengeluaran dan sisa uang yang terpakai selama Tukang kerja.

Kelar dari urusan ini, pikiran bawaannya pengen segera pulang, karena bagaimanapun malam pertama Ramadhan, saya sudah berniat untuk shalat Tarawih di Masjid dekat rumah. Namun, apa daya, baru saja salaman pamit dengan Eko Yuniarto. hujan lebat mengguyur Jakarta dan sekitarnya. Dengan sabar menanti hingga maghrib masuk, tinggallah rintik-rintik gerimis. Walau masih ditahan oleh sahabat-sahabat, namun saya sudah niat untuk pulang. Bagaimanapun hari pertama dan akhir Ramadhan saya sudah bertekad untuk selalu bersama dengan keluarga. Terlepas hari berikutnya buka puasa dan sahur tidak dirumah sudah tidak perlu terlalu khawatir. Tapi pada intinya, saya jika tidak ada janji atau agenda yang penting, saya usahakan bersama adik dan bunda tercinta saya dirumah.

Akhirnya kejadian juga, hari ini saya berbuka puasa dikantor yang tidak bisa ditolak.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s