Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

berjiwa dan semangat pemenang

Tinggalkan komentar

Terimakasih atas kesempatan yang diberikan pada saya pagi ini (Kamis, 110908 pukul 0730) diacara Value in Practices Human Capital Development Dept dengan sedikit berbagi atas situasi yang terjadi disekitar kita akhir-akhir ini.Seperti yang telah kita saksikan bersama bagaimana China meraih double winner, sukses sebagai penyelenggara dan sukses sebagai peraih medali emas terbanyak. Begitupun saat melihat foto di halaman muka koran atau berbagai media massa, atlet Indonesia memamerkan sekeping medali emas di Olimpiade Beijing rasanya seperti obat dan menggugah hati ini ditengah situasi bangsa yang masih terpukul. Rasa yang ‘melambung’ ini sangat mudah berubah saat kita melihat foto model penjahat kerah putih yang melilit bangsa ini. Rasa ‘terpukul’ dalam situasi ‘pecundang’ sangat mudah kita bedakan.

Saat situasi ‘pecundang’ lebih sering kita alami, rasa pahit yang bertubi-tubi bisa tergantikan dengan rasa yang terpuruk, pesimis, bahkan bila tidak hati-hati bisa menjadi sikap apatis dan cuek dengan situasi sekitar. Apalagi jika kita berjumpa dengan individu bangsa lain, yang dengan sinis mencibir atau meremehkan bangsa kita. Menghadapi  situasi yang berat ini, rasanya berat ‘merasa menang’, mengangkat dagu atau tetap bersemangat pemenang.

Disadari atau tidak, sikap pecundang yang terpelihara ini tentunya akan mempengaruhi kinerja kita misalnya di perusahaan dan mempengaruhi “fighting spirit” kita secara umum dalam persaingan bisnis dengan bangsa lain. Bisa-bisa kita tergiring dan tenggelam dalam ke’pecundang’-an dalam rasa.

Pun, kita semua sudah diajarkan orangtua kita untuk bisa membedakan mana yang baik-buruk, benar-salah dll. Jika ada seorang anak yang selalu ‘dimenangkan’ oleh orangtuanya dan jarang sekali menghadapi kegagalan. Keadaan ini menyebabkan ia tidak akrab dengan kekalahan, apapun aturan atau konsekuensinya. Menang yang sebenarnya adalah termasuk memperlihatkan komitmen atas rules yang sudah disepakati, kebesaran jiwa dan penghargaan terhadap aturan. Dan mempertahankan semangat jiwa pemenang.

tambahan Aga MTBU:

kemarin saat pulang ke semarang, saya juga menyaksikan bagaimana semangat “fighting spirit” seorang supervisor ( kalau di PAMA mungkin sebutannya GL ) saat dikeroyok, dihakimi, dipojokkan dalam situasi yang tentu tidak dikehendakinya. Pesawat yang saya jadualkan terbang pagi dari Jakarta-Semarang tanpa ada koordinasi  dari pusat dengan counternya di bandara perihal perubahan jadual berangkat yang dimajukan satu jam dari jadual yang tercantum ditiket. Walau dalam kondisi yang genting tsb, ybs masih terlihat sabar, tenang dan berusaha mengucapkan “persoalan ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik, Pak”. Ia tidak sekalipun menyebutkan nomor HP atau contact person/ nama atasannya di kantor dalam keadaan didesak oleh para penumpang yang marah, kecewa dan jengkel atas sikap airline-nya yang tidak bertanggungjawab meninggalkan calon penumpangnya dengan terbang lebih awal dari jadual.

Akhirnya, seorang supervisor tsb begitu tekun dan sabar melayani semua penumpang yang ditelantarkan selesai diurusnya hingga semua dapat tiket penerbangan dan diganti dengan Garuda.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s