Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Tak Tahu Etika di Masjid 2

Tinggalkan komentar

Selain dering handphone di saat shalat berjamaah yang amat mengganggu ada satu lagi perilaku yang tak memenuhi kaidah shalat berjamaah. Apa itu ? Mungkin Anda seringkali menemui di banyak tempat. Bahkan saya hampir setiap hari menjumpai baik dalam shalat fardhu maupun tarawih kemarin. Jika diperhatikan dari siapa dan rentang usianya seharusnya ini tak perlu terjadi. Toh mereka bukan anak-anak lagi, mereka sudah dewasa dan sudah pantas dipanggil Ibu atau Mama oleh buah hatinya.

Ya, jika sekilas diperhatikan mayoritas dalam shalat berjamaah seringkali ditemui shaff-shaff shalat wanita yang tidak rapat dan berjarak amat jauh. Jauh dari kesempurnaan tata tertib shalat berjamaah. Walau tak dipungkiri shaff shalat jamaah dari kaum adam juga begitu, namun tak separah yang terjadi dikaum hawa.  Entah enggan, males atau tidak tahu ilmunya seolah-olah kebiasaan yang mereka bawa tersebut menjadi hal yang biasa saja. Rasa-rasanya Sang Imam juga tak bosan-bosan mengingatkan secara gamblang agar setiap shaff harus lurus dan rapat.

Padahal begitu nikmatnya jika kita shalat berjamaah itu kondisi shaff kita begitu rapat dan lurus. Kita pun bertanggungjawab dengan orang disamping kita atas lurus dan tidak rapatnya shaff shalat. Kita bisa tegur dan ajak untuk turut membantu menyempurnakan shaff dengan mengisi sela yang kosong atau belum rapat. Kondisi yang ideal sebuah shaff adalah jika digoyang atau salah satu jamaah ada yang oleng misalnya atau nyaris terjatuh itu bisa diminimalisir dengan lengan sisi luar jamaah dikanan-kirinya. Sebenarnya ini sebuah sikap preventif dan antisipasif yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Memang jika diperhatikan lebih jauh dibarisan shaff-shaff kaum hawa, mereka saat pergi shalat berjamaah acapkali membawa tas-tas berukuran besar dan sajadah yang cukup lebar pula. Padahal jika 2 (dua) sajadah tersebut disatukan cukup untuk 3 (tiga) jamaah berdiri. Belum lagi ukuran tas yang dibawa diletakkan bukan dihadapannya namun disamping kiri/kanan yang membuat jamaah disampingnya segan memindahkannya dan terpaksa menghamparkan sajadah (yang besar lagi) dan terus membuat panjang ketidaksempurnaan shaff-shaff shalat berjamaah. Yang lebih disayangkan lagi adakala tas yang besar atau bermode tersebut dan sajadah dibawa menunjukkan prestise dan gengsi yang lebih ditonjolkan.

Aduwh yang lebih parah lagi, saat shaff yang didepannya belum penuh mereka sudah bikin shaff baru dibelakangnya. Lebih mementingkan duduk berkelompok-kelompok. Kumandang iqamat jelang shalat berjamaah sudah dimulai pun bukannya bergerak cepat untuk mengisi shaff didepannya, padahal bukan hanya masih ada sela tapi lebih parah lagi banyak shaff yang masih kosong.

Di ruang ibadah yang sudah diatur shaff-shaff dan kita tinggal mengikutinya saja masih sulit dan banyak yang tak taat dan belum sadar bahwa lurus dan rapatnya suatu shaff dalam shalat berjamaah itu penting dan perlu. Tanpa itu hilanglah kesempurnaan shalat berjamaah kita, apalagi shaff-shaff yang berada dihalaman terbuka. Entahlah.

Kelak, InsyaAllah saya bertekad akan mendidik orang-orang yang saya sayangi agar tidak menjadi bagian dari kebodohan yang berlarut-larut. Semoga keprihatinan ini segera berakhir.

Wallahualam,
[mfirmanshah]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s