Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Nilai Idul Fitri, Nilai Sebuah Silaturahim

Tinggalkan komentar

Setiap Idul Fitri saya lalui dengan beragam moment Istimewa. Tahun lalu saya dan kawan-kawan dari RISKA mengikuti Tour de Yogyakarta dihari kedua Idul Fitri dengan menghabiskan waktu selama sepekan pulang pergi.
Idul Fitri tahun ini saya awali bersilaturahim dengan Dunsanak jo Bako yang berada disekitar rumah. Biasanya saya berkunjung ke Keluarga dari lokasi yang terdekat lalu yang agak jauh di hari pertama. Saya hanya melanjutkan nilai silaturahim yang telah Ayahanda tanamkan ke saya sekeluarga. Semoga ini salahsatu nilai bakti saya kepada Ayahanda dan menjadi amal shaleh / sedekah Ayahanda yang terus mengalir selepas beliau menghadapNya. Amin.

Pagi yang cerah ini saya shalat Idul Fitri di lapangan SDN Tingkat Rawabadak seberang rumah yang rutin setiap tahun diselenggarakan oleh Pengurus Masjid Subulussalam yang kali ini dengan Khatib dan Imam Shalat : Ust Angku Syafdinal, SH. Nasihat dan materi khutbahnya sangat retorik dan bersastra sehingga saya hanya bisa takjub dan terkesima. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan nikmat kesehatan dan istiqomah membimbing ummat ini. Amin.

Sebelum memulai perjalanan pagi ini, saya tentu “berlebaran” dengan Ibu dan Adik lalu dilanjutkan dengan tetangga sekitar. Rute pertama yang saya tuju diantaranya,

1.    Makdang Syamsiar.
Beliau istri dari almarhum kakak pertama Ibu. Rumahnya yang berjarak kurang lebih 200 meter. Disini saya jumpai 2 kakak sepupu dan anak-anaknya yang sedang tumbuh kembang dengan indah. Sedangkan 2 kakak sepupu lainnya belum datang dari rumahnya di Bekasi.

2.    Inyik Muhammad Zein.
rumah kedua yang wajib dikunjungi yang berlokasi di Sindang, juga masih satu Kecamatan. Beliau adalah adik dari nenek Ayah (kalo ga salah, bingung🙂 ]. Walau sudah berusia 80 tahun lebih, beliau masih interaktif dengan lawan bicaranya dan daya ingatnya pun masih baik. Beliau adalah Inyik yang membela saya diwaktu kecil selepas ditinggal Ayah. Beliau juga sangat bangga dengan kami cucu-cucunya ini dan ini merupakan salahsatu faktor atas bakti Ayahanda kepada beliau dan orang-orang yang dituakan sehingga kami tinggal melanjutkan warisan nilai silaturahim yang sudah dirajut. Walau secara fisik sudah bawaannya cepat letih dan lemah namun diusia saat ini beliau kalau saja bukan karena kuatnya ibadah dan dekat dengan Allah Ta’ala sulit dan jarang yang masih bisa berinteraksi dan berbicara. Semoga Allah Ta’ala menjaga dan memberikan kekuatan Iman, Islam dan kesehatan untuk Inyik kami. Inyik dari bahasa Minang yang artinya Kakek.

3.    Makdang Nani di Sindang.
Makdang yang terkenal dengan jago masak ini dan jadi andalan saat kami baralek di rumah beberapa tahun lalu terjatuh di pasar dekat rumahnya sehingga engsel kaki kanan beliau tidak begitu stabil lagi menopang tubuhnya dan hanya bisa berjalan tidak selincah sebelumnya dan itupun jika berjalan jauh atau berpergian harus menggunakan kendaraan pribadi. Kini beliau sudah memiliki cucu dari 3 (tiga) anak perempuannya. Makdang artinya Tante yang lebih tua dari orangtua kami di Minang.

4.    Om Sutan Rusli di Kebantenan.
Keluarga di rumah yang satu ini juga tidak boleh dilewatkan begitu saja. Om yang satu ini adalah Uda-nya Ibu tempat meminta pendapat, pandangan dan nasehat selepas Ibu ditinggal Ayah. Beliau pula yang banyak memotivasi dan menyakinkan saya untuk tetap menempuh pendidikan dalam kondisi apapun tidak sekedar petuah tapi memberi jalan kearah itu. Cara beliau memberi contoh bagi kami dalam menempuh pendidikan yang tak terbatas terhadap putera-puterinya. Beliau pulalah Kepala Sekolah saat saya di SMP Muhammadiyah 14 Jakarta dan Tante (Istrinya) pun juga guru saya saat itu. Disamping itu beliau mengajar di SMA Negeri 13 Jakarta dan berbagai aktivitas kemandirian lainnya.

5.    Pak Dang Layli di Cilincing.
Walau beliau sudah almarhum, kami tetapkan untuk berlebaran setiap tahun kesini. Tinggallah istri dan 5 anak-anak perempuannya yang sudah bersuami semuanya dan memberinya 12 cucu.

6.    Pak Etek Buyung di Cakung.
Dari rumah Pakdang Layli, kami arahkan ke Pak Etek Buyung di Komplek Pertamina Cakung, namun kurang beruntung karena pagar rumahnya terkunci. Kabar yang diperoleh bahwa mereka ke RS karena istrinya si Abang (anak pertamanya) melahirkan.

7.    Tante Emmy di Pulo Jahe.
Dari Cakung sebelum Pulogadung Trade Center langsung belok ke kiri ke arah Pulo Jahe mampir ke rumah Tante. Dia dan suaminya berjualan kelontong di pasar pulo jahe tsb yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Tante memiliki seorang putri usia SD yang cukup berprestasi. Ibu dari Tante adalah adik dari Nenek pihak Ayah saya. Karena hari sudah pukul 3 sore saya pamit menuju “pos” berikutnya.

8.    Keluarga Uda Gino di Kayumanis.
Sejak sebelum ibunya meninggalkan 8 anak-anaknya yang sudah mapan dan berkarir dibidang masing-masing hubungan kami sudah erat terjalin. Hasilnya terlihat bagaimana Ibunya mendidik anak-anaknya untuk tetap berjuang hidup ditengah himpitan kehidupan setelah “ditinggal” suaminya dan tetap mengedepankan sabar dan ikhlas tanpa dendam sehingga silaturahim tetap saling terjaga. Hubungan kami jatuhnya sebagai kakak sepupu dari pihak ibu karena Ayah mereka adalah kakak kandung Ibu langsung.

9.    Pak Dang Midjar di Kebon Bawang.
Pak Dang inilah salahsatu yang banyak menyemangati kami sejak kecil dan menanamkan nilai-nilai luhur dan tidak lupa meneruskan cita-cita dan harapan ayah kami. Perhatian kepada kami juga tidak sedikit. Beliau adalah salahsatu bako kami.

10.    Pak Etek Djasdi di Lorong 103 Tg Priok.
Nah yang ini adalah adik dari Pak Dang Midjar. Kami tetap sangat akrab dengan anak-anaknya walaupun sudah ditinggal Ayahnya. Keluarga bako Ayah inilah yang salahsatu keep in touch dan tetap berbagi perhatian dengan kami sehingga kami tidak merasa jauh dan berbeda. Bahkan selepas ditinggal ayahnya mereka pun masih tetap berbalas kunjungan di Hari Raya. Perhatian yang tak ternilai bagi kami.

Bersambung….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s