Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Jembatan Penyeberang Orang (II)

Tinggalkan komentar

jpo 2Selain kebutuhan Jembatan Penyeberang Jalan yang SANGAT mendesak di sepanjang Margonda Raya Depok,  penulis lanjutkan posisi ke arah selatan dalam hal ini persis di Stasiun Lenteng Agung dan Stasiun Tanjung Barat.

Bagaimana mau mengedukasi masyarakat untuk taat menggunakan Jembatan Penyeberang Orang atau Zebra Cross, jika sarana dan fasilitas pendukung Transportasi tak memadai.

Hampir setiap hari Kereta Api yang melintasi kedua stasiun tersebut tentu berdampak dengan lingkungan sekitarnya. Selain jasanya yang bermanfaat mengantarkan warga ber-komuter-ria. Tak kalah peliknya adalah saat jam berangkat dan pulang warga dari segala penjuru Jabodetabek.

Tingkat kemacetan yang terjadi sudah sangat akut didua titik tersebut seolah-olah sudah menjadi pembiaran yang berlarut-larut tanpa solusi. Keberadaan pak Polisi Lalulintas pun tak begitu berarti, toh mereka memang tak berdaya dengan kondisi yang ada.

Belum lagi ruas jalan yang menyempit dan terbatas hanya 2 (dua) jalur, diperparah lagi dengan angkot yang “berkepentingan” menyangkut target kejar setoran yang tak bisa dipungkiri.  Dan pastinya begitu banyaknya penyeberang jalan yang seolah-olah tiada henti makin memberi andil pada kondisi yang sudah ada.

Ya nampaknya dan memang sepertinya pengelola kota Jakarta ini bukanlah yang Ahlinya sesuai yang digembar-gemborkan saat kampanye.

Untuk dua Stasiun yang khusus ini, penulis sangat berharap agar Jembatan Penyeberang Orang tersebut dibangun dengan menghubungkan Pintu Keluar – Masuk menuju Stasiun tersebut dan langsung ke seberang jalan. Jadi, warga masyarakat yang akan menuju dan keluar stasiun harus melewati jalur tersebut.

Tetapi yang harus diingat, Jembatan Penyeberang Orang tersebut harus ramah dan minimal seperti Jembatan Penyeberang yang menghubungkan Halte-halte Busway. Jangan seperti Jembatan Penyeberang Orang yang di depan Stasiun Universitas Pancasila yang nyaris jarang diberdayakan oleh masyarakat karena ketidakramahannya.

Tapi kita tak boleh menyerah dengan “nasib” yang menyelimuti ini. Insya Allah.

source image

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s