Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

3 x 3

Tinggalkan komentar

Tiga weekend tugas luarkota bersama 3 rekan yang berbeda, memberi pengalaman yang berbeda pula. Berangkat dari karakter dan kebiasaan masing-masing sedikit banyak mencerminkan hal tersebut.

Disamping itu berbeda pula budaya para pelayan dalam menjamu para tamu dihotelnya. Di perjalanan pertama Blora ~ Solo, menginap di Ibis Hotel, walau berbintang 3, konsepnya minimalis dan nyaman menginap disana. Terutama saat saya sarapan  direstorannya sambil bermandikan sinar matahari yang baru menyapa bumi.

Namun saat dikota Semarang, saya menginap di hotel bintang 5.  Sempat berpikir apa ya rasa dan bedanya bintang 5 dengan bintang 3, maklum belum pernah mengingap di hotel bintang 5. Apadaya, kesan yang diterima sungguh tak mencerminkan hal tersebut. Idealnya, jika tamu baru duduk dimeja makan suatu restoran hotel, pramusaji akan menyapa dan menawari “mau minum teh apa kopi, pak?”. Sampai saya selesai sarapan pun tak seorang pun menghampiri saya. Buyar sudah.

Belum lagi pengalaman rekan saya yang diminta Rp 500.000, untuk deposit katanya. Padahal mereka sudah memperoleh gurantee letter.  Saya pun kebagian pengalaman yang tak mengesankan pula. Idealnya seorang tamu sekembalinya ke kamar saat sore sudah mendapati pakaiannya sudah rapih bersetrika. Maghrib sudah lewat, pakaian belum juga diantar ke kamar. Coba berbaik sangka, mungkin belum selesai prosesnya pikir saya. Cukup lama, petugasnya tiba setelah ditelpon sambil menyebutkan nilai rupiah yang harus saya bayar. Lagi-lagi, buruknya komunikasi diantara sistem di hotel tersebut.

***

Pun begitu pula dengan sambutan dari pihak institusi pendidikan dalam menfasilitasi kami maupun dalam mengayomi para kandidat mereka yang akan mengikuti sesi finalisasi proses recruitment hingga menjelang keberangkatan menuju TC.

Untuk menilai dan membicarakan karakter dan kebiasaan rekan yang menjadi tandem dalam tugas ini tentu tak elok rasanya untuk membahasanya disini. Cukuplah saya bersama memori ini yang merekamnya. Kesan yang membekas tentu cukuplah menjadi pelajaran kedepannya.

Ya, untuk memberi porsi penilaian bukanlah domain saya. Berpulang kepada pribadi masing-masing. Kapan bisa memposisikan diri saat berjalan sendiri atau saat bersama rekannya. Apalagi dalam rangka dinas luarkota. Sebenarnya intinya itu saja.

Benar apa kata Khalifah Umar bin Khattab, untuk mengenal kepribadiannya seseorang, salahsatu adalah saat berjalan bersama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s