Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Sengsaranya Naik Trans Jakarta

Tinggalkan komentar

Ini merupakan pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Trans Jakarta yang digadang-gadang sebagai solusi kemacetan dan kesemrawutan Transportasi Jakarta, ternyata jauh dari harapan dan cita-cita diawalnya.

Ya, bagi saya ini pengalaman yang “mengesankan”. Saya yang mencoba memarkirkan sepeda motor dirumah, berangkat dari Koridor Ragunan – Latuharhari via Halte Busway Pertanian dan transit di Halte Halimun untuk melanjutkan Busway Koridor Dukuh Atas – Pulogadung. Saya sampai di Halte Pertanian pukul 0710 sehingga sedikit kurang beruntung, sudah dikenakan tarif Busway Rp 3500 karena jika sebelum pukul 0700, dikenakan tarif Rp 2000. Namun itu bukanlah suatu problem bagi saya dan masyarakat kebanyakan tentu tak keberatan dengan tarif Rp 3500.

Setelah mengikuti antrian didepan loket, tibalah saya dalam antrian Halte Busway Pertanian yang sudah tidak sanggup lagi menampungnya. Butuh waktu satu jam untuk memperoleh Busway yang bisa mengantarkan saya menuju tujuan akhir di Halte Tugas Kawasan Industri Pulogadung via transit di Halte Halimun. Dengan susah payah Trans Jakarta menembus jalur busway di sepanjang koridornya yang penuh dan sudah di-occupacy oleh pengendara sepeda motor. Belum lagi banyaknya putaran yang mengganggu kelancaran laju Trans Jakarta, sehingga Trans Jakarta yang sudah penuh sesak tersebut melaju dengan hati-hati.

Yang ironisnya, baru tiba di halte kedua setelah Halte Pertanian, para calon penumpang yang sudah antri di Holte SMK 57 sudah sangat sulit ikut terangkut. Silahkan dibayangkan bagaimana sengsaranya para calon penumpang Trans Jakarta di halte-halte berikutnya. Lalu kapan pula mereka bisa tiba ditempat tujuan seperti sekolah, kantor atau lokasi usaha mereka. Berapa banyak waktu dan energi yang terbuang percuma hanya untuk menunggu Bus Trans Jakarta dan mengantarkan ke Halte Tujuan.

Diakhir Jl HR Rasuna Said — Kuningan, Bus Trans Jakarta yang seharusnya memutar ditikungan menuju Halte Latuharhari, ternyata Bus Trans Jakarta tersebut terus saja menuju Jl Imam Bonjol hingga Halte Monas. Padahal di Halte Pertanian tidak ada info baik di dalam Bus Trans Jakarta, di Pintu sebelum naik Bus maupun Papan Info Rute Trans Jakarta di setiap Halte. Para petugas di Halte pun tidak ada yang memberi tahu kami via pengeras suara maupun petugas yang didalam Bus Trans Jakarta.

Dengan sangat terpaksa saya ikuti Bus Trans Jakarta yang terus melaju dan memutuskan untuk menyambung lagi Bus Trans Jakarta dari Halte Monas untuk menuju Pulogadung.  Jangan dibayangkan mudah dan cepat memperoleh Bus Trans Jakarta tersebut.

Sungguh, memalukan jika ini terjadi dengan wisatawan asing. Mau diletakkan dimana wajah Pariwisata Indonesia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s