Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Pemilu Presiden di bulan Ramadhan

Tinggalkan komentar

surat suara pilpres 2014Pemilu presiden kali ini sungguh terasa sangat istimewa. Ya, pemilu presiden (pilpres) tahun ini telah berlangsung pada hari Rabu, 09 Juli 2014 bertepatan dengan 11 Ramadhan 1435 Hijriah.

Bagaimana tidak, disaat bangsa ini terbelah oleh pertarungan kubu pendukung pasangan calon presiden, Ramadhan menaungi dengan rahmat-Nya penuh kesejukkan. Tak terbayang begitu brutalnya pertarungan opini, umpatan hingga cemooh yang dilontarkan mengotori di sudut-sudut ruang publik , sampai mewarnai meja kerja hingga membumbui dalam menu-menu makan siang kita.

Ditambahkan lagi dalam masa kampanye ini hingga memasuki tensi tinggi, dari debat kandidat edisi pertama hingga akhir. Persaingan begitu sengit. Pertarungan dua kubu yang saling berseberangan. YA, Pilpres 2014 menyajikan langsung Partai Final. Suatu drama seru yang rakyat tak duga sebelumnya.

Berawal dari gagalnya koalisi partai-partai berbasis massa Islam untuk mengusung satu pasang kandidat sendiri yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh Ormas Islam di kediaman pengusahan Hasyim Ning. Karena –mungkin– setiap partai / ormas memiliki jagoan sendiri dan tidak ada yang saling mengalah, rencana itu bubar ditiup angin lalu.

Hingga akhirnya, Prabowo Subianto dengan cekatan menggandeng seluruh partai-partai berbasis massa Islam –kecuali PKB– yang terdiri atas PPP, PAN, PKS dan PBB untuk bersatu-padu mengimbangi elektabilitas seorang Jokowi –yang didukung media mainstream– sudah disiapkan jauh sebelum Pilkada DKI lalu. Lalu menyusul Golkar dan Demokrat berbaris di Koalisi Merah Putih ini.

Dari kalkulasi awal, raihan suara Koalisi Merah Putih bisa melebih 50 %. Namun apa daya, hasil Real Count KPU dari Rapat Pleno pada tanggal 22 Juli 2014,  pasangan Jokowi-JK unggul 53,15 % suara sah nasional.

Beberapa saat sebelum Ketua KPU Husni Kamil Malik mengumumkan perhitungan Pilpres, kandidat nomor 1 Prabowo Subianto dengan cekat mengeluarkan pernyataan dengan kata bersayap bahwa  menarikdiri (withdrawal) dari proses pilpres ini.

Sementara dimalam harinya, pasangan nomor urut 2, Jokowi-JK memberikan pidato diatas perahu phinisi di kawasan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, untuk melupakan nomor 1 maupun nomor 2. Demi, Persatuan Indonesia sesuai Sila Ketiga Pancasila.

Ternyata, pertandingan belum selesai saudara.

Kandidat nomor 1 mengklaim sungguh banyak dan beragam kecurangan dalam pilpres ini yang dilakukan secara masif, terencana dan sistematis di berbagai daerah.  Posisi KPU sebagai institusi negara, posisinya kini tersudut jika telah membiarkan kezaliman terhadap demokrasi itu sendiri. Terlebih mengabaikan untuk menindaklanjuti rekomendasi Bawaslu terkait permainan kotor yang terjadi.

Selama peluit panjang belum ditiupkan, janur kuning belum melengkung, sumpah jabatan belum dilantunkan pada tanggal 20 Oktober 2014 lusa. Suksesi Kepemimpinan Nasional masih kita tunggu kepastiaannya.

Yuk, kita berdoa ke Sang Pemilik Kehendak, Illahi Rabbi. Semoga Indonesia dianugerahi Pemimpin yang Mencintai Rakyatnya, dan pun Rakyat Mencintainya. Aamin.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s