Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

[Makin Sengsaranya] Naik TransJakarta

Tinggalkan komentar

TransJakarta GandengHari itu Rabu (15/10/14) selepas saya menjemput adik saya sekembalinya dari Tanah Suci,  saya niat pulang ke depok sebelum hari sore. Berhubung hari ini hari kerja, kuatir terjebak dalam kemacetan atau kepadatan lalu lintas sore. Saya berinisiatif mempercepat kembali ke rumah atas izin dari Ibunda tercinta.

Hari ini ashar sebelum pukul 15.00 WIB, saya mandi dan ambil wudhu sebelum kumandang adzan. Lalu menuju masjid bersama kumandang adzan ashar pukul 14.45 WIB. Kurang lebih 30 menit berselang saya sudah di halte Trans Jakarta Koridor X, Koja Permai. 10 menit waktu berlalu. 15 menit menunggu tak kunjung datang juga bus yang ditunggu. Hingga halte sudah penuh dengan calon penumpang.

Ditengah gelisah, akhirnya bus gandeng dari China tiba setelah 30 menit tanpa kepastian. Ya, petugas loket dan penjaga pintu karcis asyik dengan HP saat tak ada penumpang datang alias tak ada karcis yang disobek. Trans Jakarta yang beroperasi sejak 2004 alias 10 tahun, masih menjalankan manajemen kuno.

Kembali ke Bus TransJakarta. Harapan agar nyaman di TransJakarta ternyata isapan jempol belaka. Di setiap halte yang ia berhenti, naiklah penumpang yang menambah sesak kapasitas bus tersebut. Saya berdiri disambungan bus tersebut dengan rasa kuatir, mengingat pernah terjadi lepasnya sambungan bus gandeng TransJakarta di daerah sekitar Jatinegara. Konyol emang insiden ini.

 

TransJakarta Putus

TransJakarta Gandeng yang Putus (http://megapolitan.kompas.com/)

Bus gandeng yang katanya baru ini dan pengadaan 2012 ternyata jauh dari kesan mewah. Pendingin Ruangan-nya tak kuasa dengan kuatnya hirupan hidung para penumpang. Keringat pun meleleh tanpa komando. Rasanya lama sekali perjalanan ini. Petugas pemandu dalam TransJakarta hanya berdiri di pintu depan. Sedangkan suara pengumuman / info kedatangan per-halte sudah tak terdengar suaranya. Entahlah.

Dalam tempo 30 menit Alhamdulillah sampai juga di Halte Transit Pramuka BPKP, saya bergegas menyeberangi halte tersebut dengan harapan tak terulang waktu tunggu yang telah menggerus waktu saya secara  sia-sia. Di halte ini kembali saya dibuat muak dan dongkol, butuh tambahan 20 menit waktu yang harus menguap hanya menanti dan menanti.

Kedatangan bus kedua dari Pulogadung, baru saya bisa terangkut ke halte pemberhentian, Halte Manggarai. Itu pun dengan perjuangan. Tahu sendiri-lah, bus dari Koridor IV ini alias Pulogadung disinyalir bus paling jelek dibanding Koridor TransJakarta lainnya. Untuk AC ngga usah berharap deh. Pintu buka-tutup membanting dengan kencang tanpa aba-aba. Pegangan tangan penuh keringat. Lantai dan langit-langit yang kotor dan mengelupas. Jangan kaget, jika menemui papan dilantai atau atap yang berkarat disibak oleh busanya.  Jika hujan, ada saja yang bocor.

25 menit kemudian alias pukul 17.00 WIB tiba juga saya di Halte TransJakarta Manggarai untuk melanjutkan perjalanan dengan CommuterLine. Jarak tempuh Koja-Manggarai yang hanya 10 KM dibutuhkan waktu tempuh hampir 2 (dua) jam alias 105 menit. Jika saya berkendara motor bisa 15 menit atau berkendara sepeda pun mungkin saya sudah lebih dulu tiba.

Ya, inilah ironis Transportasi Jakarta Baru yang diagung-agungkan hasil Pilkada 2012 lalu tanpa membuahkan hasil. Alhamdulillah saya tidak memilih mereka, toh akhirnya dikhianati juga Sumpah Jabatannya.

Salam gigit jempol !

source image : republika dan kompas

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s