Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Agenda Dakwah Tak Kenal Henti

Tinggalkan komentar

Muhammad SAWSelesai perang Ahzab, Rasulullah SAW pulang ke rumahnya. Ketika hendak meletakkan pedangnya, Malaikat Jibril menegurnya.

“Para malaikat belum meletakkan pedangnya, pergilah ke Bani Quraizah (untuk membuat perhitungan dengan Yahudi Quraizah yang khianat dalam perang Ahzab)”.

Maka Rasulullah SAW perintahkan para shahabatnya untuk segera menuju Bani Quraizah.

Bahkan saking segeranya beliau berpesan. “Jangan shalat Ashar sebelum tiba di Bani Quraizah”

Para shahabat yang belum hilang letihnya dari perang Ahzab, langsung berangkat. Taat.

Sehingga sempat terjadi ‘problem’ pemahaman. Ketika pasukan belum tiba di Bani Quraizah sebelum waktu Ashar masuk.

Sebagian berpendapat, shalat Ashar dulu, sebab maksud pesannya adalah agar bersegera, sehingga ketika masuk Ashar, sudah sampai di Bani Quraizah.

Kalau belum sampai sudah masuk waktu Ashar, ya shalat dulu.. begitu alasannya.

Sebagian lagi berpendapat, jangan shalat Ashar di tempat tersebut. Sesuai pesan tekstual agar jangan shalat Ashar kecuali di Bani Quraizah.

Akhirnya ada sebagian shahabat yang shalat Ashar di tempat tsb, sebagian lagi tidak shalat Ashar….

Namun yang pasti, para shahabat yang berbeda pendapat itu, akhirnya sama-sama berangkat menuju Bani Quraizah dan berikutnya terjadi perang tersebut.

Pelajaran yg dapat diambil dari cuplikan sirah ini adalah betapa kehidupan seorang muslim penuh dengan agenda tugas dan perjuangan.

Selesainya sebuah tugas dan agenda, justeru akan melahirkan tugas-tugas berikutnya yang lebih luas dan beraneka.

Sebab tabiat dakwah memang begitu, ketika kau tiba di satu titik, justeru dari titik itu ‘kan kau dapatkan titik-titik yang lebih banyak untuk kau jangkau.

Itu sesuai dengan tabiat seorang muslim yang seharusnya, yaitu Tawwaaqah..تواقة sebagaimana ucapan Umar bin Abdul Aziz.

إن لي نفسا تواقة ، كلما وصلت إلى أمر تاقت إلى ما هو أعلى

“Aku memiliki jiwa ‘ambisius’ setiap aku tiba pada satu perkara, aku ingin mencapai yang lebih tinggi lagi.”

Beruntunglah jika kita dilibatkan dengan berbagai agenda perjuangan. Meskipun tampak melelahkan, namun jiwa kan tercerahkan.

Bukankah Allah juga telah nyatakan

فإذا فرغت فانصب

“Jika engkau selesai atas suatu perkara, maka mulailah (dengan perkara lainnya).”

Pelajaran lain yang dapat diambil dari cuplikan sirat tersebut adalah, perbedaan pendapat itu mungkin sekali, apalagi jika speed dakwah begitu tinggi.

Namun yang terpenting adalah, perbedaan tersebut jangan mengganggu perjalanan dakwah, apalagi menghalang-halanginya.

Tidak perlu ‘mutung’ dalam dakwah hanya karena merasa pendapatnya tidak diterima. Karena kalau semuanya diterima pun tidak mungkin.

Begitualh perjuangan ini jika kita pahami tujuan besarnya, maka kejadian-kejadian kecil (riak-riak) hanya menjadi romantika yang memperkaya dan memperindah cerita.

Bukan membesar-besarkan perkara samping, sehingga mengabaikan tujuan utama dan target terbesar kita.

source : groupWA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s