Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

70 KM, 180 menit

1 Komentar

70Setiap hari jarak tempuh yang harus saya lalui bertambah 3 X lipat setelah hijrah hampir 5 tahun ini ke Depok. Sebelumnya, saya hanya butuh 20-30 menit dari rumah di kawasan utara jakarta menuju ladang di kawasan industri pulogadung.

Setelah menikah, nawaitu-nya agar memperoleh udara dan lingkungan yang jauh lebih sehat dengan hijrah ini. Terlebih bagi buah-hati yang semua orangtua tentu ingin agar kelak tumbuh-kembang generasinya dengan dukungan iklim yang sehat. InsyaAllah.

Berbagai jalur sudah saya tempuh dan alternatif transportasi sudah dijajaki, mulai dari Busway, Buskota hingga Commuterline. Misalnya hambatan-hambatan yang harus diterobos dengan penuh sabar sepanjang rute di jalan condet ini.

Membiasakan naik Commuterline dengan konsekuensi harus lebih pagi tiba di stasiun kereta. Lalu menitipkan motor, tentu bukan menitipkan secara harfiah. Perlu Rp 5.000/hari untuk jasa parkir ini. Memang kini commuterline akan tiba sekitar setiap 5-10 menit dan berhenti di setiap stasiun. Namun, ingat tidak ada jaminan anda akan on-time di stasiun tujuan. Hampir setiap hari entah pagi atau sore, masinis meminta maaf karena gangguan sinyal dan kereta tertahan sebelum memasuki stasiun atau maaf-maaf lainnya.

Beridiri dengan jurus burung bangau dan turun berganti kereta di stasiun transit menunggu rangkaian kereta selanjutnya di jalur yang tidak pernah pasti. Keluar dari gerbong dengan peluh dan muka lusuh.

Seolah menjadi hal yang lumrah.

Tiba diladang yang sudah telat dan tidak fresh. Ini terus berulang setiap hari. Saya coba naik buskota, yang disaksikan adalah “orator” yang bangga sebagai alumni Cipinang dan pengamen yang memaksa “dihargai” suaranya dengan lembar Rp 5.000 – 10.000. Padahal nilai tersebut sangat berharga bagi rakyat kecil yang menumpang buskota ini.

Beberapa kali saya terpaksa harus ngaspal kembali.

Tak pelak, efek sampingnya mulai terasa kini. Tentu ini menjadi problem bagi masyarakat yang melaju atau commuter dari daerah-daerah penyangga ibukota. Selama negara tidak hadir mengambil alih sistem transportasi yang terintegrasi dan memanusiawikan, tentu sekian tahun kemudian, indonesia akan makin banyak penderita nyeri pinggang dan punggung.

Tentu ini sebagai konsekuensi yang diambil. Banyak pikiran-pikiran yang terus mengusik dan menjadi renungan. Apakah ada solusi lainnya yang harus ditempuh untuk menghilangkan efek jangka panjang akibat bermotor ini.

Terlebih, kini dengan kehadiran ratusan saudara-saudara kita yang berprofesi sebagai ojek online. Hampir 24 jam beroperasi melintasi dan menerabas panas-terik dan hujan-polusi yang menyelimuti ibukota ini. Semoga saja mereka tidak menjadi korban kejamnya tata-kota ini. Tragisnya, cover pengobatan dan perawatan kesehatan tidak sepenuhnya dimiliki masyarakat indonesia.

***

Dengan jarak rumah-kantor hingga 35 km harus saya tempuh 1,5 – 2 jam dan itu dikali 2 untuk PP, kami panjatkan, semoga Allah Ta’ala berikan solusi yang full solutif dengan segala Kudrat-Iradat-Nya.

Iklan

One thought on “70 KM, 180 menit

  1. Mohon maaf sebelumnya.
    Dari beberapa postingan di blog ini, saya tahu bahwa Bapak bekerja di Pama bagian HRD. Saya ingin tahu bagaimana kondisi rekruitmen Pama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s