Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Ibunda Tercinta : Hijrah ke Depok

Tinggalkan komentar

“dimana saya dimandikan kelak saat meninggal?”

Semasa kami tinggal di Rawabadak, Jakarta Utara, ibu pernah berucap demikian. Yang tentu saja kami tepis jauh-jauh, kami sebagai anaknya hanya bisa membesarkan hatinya. Toh, semua sudah tertulis di Lauhul-Mahfuz.

“Biarlah itu menjadi urusan yang hidup (fardhu kifayah), ndak usah dipikirkan, lagipula mengapa membahas hal ini..” yang membuat kami diliputi rasa takut kehilangan.

Ya, memang rumah kami tidak ada halamannya lagi, setelah diokupasi oleh dua kios yang kami kontrakkan sebagai pemasukan keluarga kami.

Pasca milad Ibu 2013, kondisi fisik ibu mulai menurun setahap demi setahap. Salahsatu do’a saya adalah agar beliau masih sempat berjumpa dengan cucunya, alhamdulilah atas izin Allah SWT, hingga 2 cucunya —alFaqih dan alFarouq— hadir menghiasi harinya.

Kedua, karena ini merupakan tanggungjawab saya sebagai kakak lelaki, saya panjatkan do’a agar adik perempuan saya, disampaikan hingga dipertemukan jodohnya. Sekali lagi syukur Alhamdulillah, hal ini Allah wujudkan di maret 2013. Setidaknya ibu menyaksikan kedua anaknya sudah ber-rumahtangga kini diusia senjanya.

Selepas adik saya menikah, ibu yang awalnya tinggal berdua dengan adik saya, sedangkan saya tinggal di depok, yang tentu konsentrasi dan pikiran saya terbagi, kini sudah ada suaminya sehingga –setidaknya– beban saya ringan sedikit.

Namun, makin kesini, kondisi ibu makin menurun. Di tahun 2012 masih bisa berjalan sendiri. Misalnya ba’da shubuh jalan santai disekitar rumah atau saat sore hari masih bisa berjalan sendiri berkunjung ke tetangga dibelakang rumah, walau agak tertatih. Berlanjut kemudian dibantu dengan tongkat.

Keluhan osteoporosis sudah mulai ada semasa ayah hidup dan makin tidak sanggup menahan badannya diusia lanjut ini. Ditambah dengan glaukoma dibola mata kananya yang dihidap sejak +/- 10 tahun lalu. Gloukoma yang hadir tanpa diketahui sebab dan mendadak.

Masih ingat betul, sore hari sepulangnya saya kerja, saya shock dapati ibu yang hilang penglihatan mata kanannya padahal dipagi hari masih normal. Jadi, selama ini ibu hanya menggunakan bola matanya yang kiri saja, dan itu harus dijaga tekanan bola matanya agar tidak mengalami kebutaan total.

Sekian lama rutin kontrol ke Poli Mata RSUD Koja namun tidak ada kemajuan yang berarti. Kami putuskan untuk kontrol secara rutin ke RS Mata Aini Kuningan hingga terakhir saya masih mendampingi ibunda kontrol pada Senin, 26 Oktober 2015 dengan dr. Srinagar, Sp.M. Sempat juga bola mata kirinya di-operasi katarak di RS ini.

“ini mata mahal” demikian pesan dari dokter mata mewanti-wanti.

Kami selain ikut menguatkan hatinya dengan menjaga pola makan dan istirahat adalah dengan menjaga pikirannya agar tak tersandera hal-hal yang mengganggunya. Alhamdulillah yang awalnya ibu pernah hipertensi kini sudah relatif normal, termasuk tak ada masalah di asam urat, jantung hingga gula darah.

***

Salahsatu hal yang mengelisahkan saya adalah, jarak dan waktu yang harus tempuh antar Tg. Priok – Depok, sehingga saya tidak bisa rutin setiap pekan bisa menemui beliau. Yang tentu membuat hatinya iba. Tentu ini bukan keinginan saya semata, terlebih setelah 2012 saya terdeteksi scoliosis sehingga jika terlalu lama bermotor, punggung rasanya tegang. Mengingat kami boyongan dengan baduta dan batita, berbagai alternatif transportasi kami coba kombinasikan seperti kereta-taksi, busway-taksi dst.

Karena tak ada solusi selain Sang Maha Pemberi Solusi. Kami percaya dibalik kesabaran kami, pasti Allah SWT beri kemudahan dikemudian hari.

Salahsatu doa kami adalah agar biruul-walidayyin kami tidak hilang begitu saja. Dari beberapa kali kami ikut sertakan pula menginap di Depok. Alhamdulillah Allah SWT beri jalan dengan lulusnya ujian seleksi mutasi kerja istri saya dari Kab. Bogor ke Kota Depok. Begitu pula dengan adik saya dengan diterimanya melalui hasil seleksi ujian CPNS Kota Depok.

Dengan terus memohon doa dari Ibu, tak lama setelah itu, semesta mendukung ikhtiar kami, adik bersama suaminya memperoleh rumah yang berjarak hanya 300 meter dari kediaman saya.

Bahkan, dua pekan sebelum Ramadhan + dua pekan Ramadhan, ibunda sudah beradaptasi dengan calon lingkungan barunya dengan tinggal dengan kami.  Ibu pun minta agar Shalat Idul Fitri-nya di Rawabadak sekaligus pamitan sebelum hijrah ke depok. Pasca Idul Fitri 1436/Agustus 2015 resmi ibu hijrah ke depok.

***

Salahsatu nikmat Allah Ta’ala yang tak terkira adalah kini berjumpanya saya dengan ibunda setiap hari. Kami bisa merawatnya sejak masih menuntun dengan satu tangan, dua tangan, memapah dari belakang, hingga ibu (seminggu sebelum opname) sudah tidak bisa bertumpu lagi dengan kedua kakinya. Atau bahkan saat diakhir-akhir masanya, duduk dikasur pun kadangkala roboh karena otot atau tenaga yang makin minim tersisa.

Setiap hari selepas shalat shubuh di masjid, saya masih sempat memandikan dan kadang hingga menyuapinya segelas susu atau setangkup roti –jika belum siap sarapan– sebelum menuju ladang. Walau resiko telat.

doa-orang-tua

 

 

image source : pusat.baznas.go.id

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s