Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

77 Tahun Ayah

Tinggalkan komentar

img_1577@mfirmanshah

Hari ini (03/03) 77 tahun hari lahir Ayah.

Walau kebersamaan Ayah hanya sampai usia saya 8 (delapan) tahun, namun nilai-nilai hidup yang ditanamkannya sungguh membekas.

Ya, Ayah adalah seseorang yang jelas warisan value-nya.

Salahsatu yang membekas pada diri kami anaknya adalah Nilai Silaturahim. Saya sering diajak beliau ke berbagai acara keluarga Ayah maupun Ibu. Ayah mengutamakan acara keluarga sebagai potret diri, kita ini adalah bagian dari keluarga besar suatu keniscayaan.

Beliau tak peduli dalam keluarga besar pasti ada hubungan diantara anggotanya yang mis-harmonis, tapi Ayah tidak memihak diatas perbedaan. Merangkul adalah karakternya.

Terbukti, setelah kepergian beliau, keluarga besar terbelah dan menjalani hidup sesuai pilihan masing-masing. Momen silaturahim hanya terjadi dan berlangsung sesaat, baik itu acara sukacita maupun dukacita. Hambar.

Kedua, Nilai yang diwarisi adalah Harga Diri Keluarga. Alhamdulillah wa syukurillah, semenjak ditinggalnya, kami tidak ada bergantung atau berhutang budi dari siapapun itu.

Semasa hidup Ayah, rumah selalu ramai dikunjungi berbagai sanak famili. Namun sepeninggal Ayah, mereka lenyap tiada kabar dan sibuk dengan urusan dunianya masing-masing.

Alhamdulillah yang sangat kami syukuri, kami bisa tegak diatas kaki sendiri atas izin Allah SWT. Bahkan orang-orang yang merongrong Ayah semasa hidupnya, Allah SWT perlihatkan kehidupannya kini.

Justru Allah SWT hadirkan keluarga-keluarga lainnya yang membimbing kami dan ikhlas mengulurkan tangannya tanpa pamrih. Baik itu karena ikatan famili maupun hubungan saudara se-iman. Semoga kelak menjadi pemberat timbangan di yaumil ‘akhir kelak.

Ketiga, selain nyaris jarang memarahi kami anak-anak, Ayah menempatkan dirinya dihadapan kami sebagai public figure. Karena kelak akan ditiru oleh anak-anaknya apa yang diucap dan diperbuat.

Ayah walaupun lelaki pemberani, jika dengan Ibundanya bertutur lembut dengan merendahkan suaranya. Begitu juga terhadap Ninik Mamak dan Urang Gaek di keluarga kami. Bahkan Ayah saat tertawa pun bersuara rendah atau terbahak cukup terdengar ukuran ruangan itu saja.

Terhadap kami pun demikian. Tidak membekas dialam bawah sadar saya, Ayah pernah membentak atau menghardik kami.

Terakhir, yang saya ingat adalah Mental Pantang Menyerah. Pernah dalam suatu kesempatan saya minta dibelikan mainan. Namun, ayah tidak serta merta mengabulkan. Ayah mendorong saya untuk mencoba membuat dari hasil tangan sendiri. Saat itu membuat mainan dari kulit jeruk bali atau bilah bambu sangat umum. Akhirnya, saya pun berusaha untuk mewujudkannya dengan belajar bersama kawan-kawan. Body mobil terbuat dari rautan bambu, sedangkan untuk roda mobilnya kami buat dari sendal swallow bekas.

Semua menjadi inspirasi saya yang kini sudah diamanahi 2 (dua) buah-hati agar mewarisi value hidup yang mendalam.

Semoga Ayah Ibu, diterima segala Amal Salihnya, diampuni segala khilaf dan memperoleh syafaat Nabi Muhammad SAW di Yaumil ‘Akhir.

Aamiin ya Rabb.

***

Rasulullāh ﷺ pernah bersabda,

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

_“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.”_ *(HR. Bukhari No. 6607)*

Semoga Allah ﷻ berikan yang baik bagi amal terakhir kita. Wallahu’alam.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s