Laskar Cinta

selamat tinggal kebodohan dan pembodohan

Di kantor, Adab juga Perlu

Tinggalkan komentar

Ini bukan pandangan saya saja yang melihat penampilan fisik dan custom-nya seorang yang “tahu agama” tetapi tidak mencerminkan adab seorang yang demikian. Ternyata,  rekan kerja di Departemen lainnya pun berpandangan sama. Alhamdulillah,  ternyata saya bukan lagi baper donk,  memakai istilah kekinian.

Dan bagi saya,  lelaki itu yang dipegang adalah omongannya. Interaksi didunia kerja yang sudah berulang-ulang makin melegasikan cerminan itu. Selama ini saya dapat adalah ia medelegitimasi kepercayaan dimata saya terhadap kredibilitasnya sendiri. Sayang, sepertinya ia tak pernah menyadari.

Bukan saya membiarkan begitu saja, tentu saya sudah memberi feedback dan sampaikan tolong hargai rekan kerja di unit lainnya yang menjadi partner atau support, karena kita semua bekerja ini adalah mendukung terwujudnya main goal dari strategic business, pun keberatan-keberatan ini sudah saya sampaikan ke pimpinan manajemen.

Sudah lidahnya tidak bisa dipegang, adab dan sopan santun diabaikan. Makin terkubur respect terhadapnya. Ya menjadi seperti ini,  jika interaksi kerja menggunakan kacamata kuda. Yang dikedepankan hanya kepentingan Departemen atau Program Kerja atau KPI sendiri saja. Yang penting tercapai. Bagaimana caranya tak peduli.

Tidak ada yang namanya mengedepankan empati terlebih dahulu terhadap rekan kerja. Yang dibenaknya, mungkin itu ‘kan sudah menjadi tugasnya,  tak peduli orang “tertindas” gara-gara sikap dan ego atau kepentingan yang ditonjolkan.

Perencanaan kerja yang buruk, menempatkan next process menjadi bumper saja. Keputusan yang tidak melalui analisa yang akurat tetapi cukup dengan mengedepankan dan berlindung dibalik ketiak atasan saja.

Jika meeting,  yang dibawa nama atasan terus,  lalu dimana argumentasi dan analisa yang katanya lulusan Perguruan Tinggi itu.

Bahkan sempat didapuk sebagai salahseorang best employee :D.[]

***

 

“Orang yang suka berkata jujur akan mendapatkan 3 hal, yaitu: kepercayaan, cinta dan rasa hormat.” (Sayidina Ali bin Abi Thalib).

source image :  hidayatullah.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s